Sekilas Cerita Mahābhārata
Oleh:
I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd
Mahābhārata merupakan kisah epik yang terbagi menjadi delapan belas kitab atau sering disebut Asta Dasa Parwa. Rangkaian kitab menceritakan kronologi peristiwa dalam kisah Mahābhārata, yakni semenjak kisah para Leluhur Pandawa dan Kaurawa (Yayati, Yadu, Puru, Kuru, Duswanta, Sakuntala dan Bharata) sampai kisah diterimanya Pandawa di surga. Adapun bagian-bagian dari Asta Dasa Parwa adalah sebagai berikut.
Nama Kitab Keterangan Kitab Adi Parwa berisi berbagai
cerita yang bernafaskan Hindu, seperti
misalnya kisah pemutaran Mandara Giri, kisah Bhagawan Dhomya yang menguji ketiga muridnya, kisah para Leluhur Pandawa dan Kaurawa, kisah kelahiran Rsi Byasa, kisah masa kanak-kanak Pandawa dan Kaurawa, kisah tewasnya Raksasa Hidimba ditangan Bhimasena dan kisah Arjuna mendapatkan Draupadi. Kitab Sabha Parwa berisi kisah pertemuan Pandawa dan Kaurawa di sebuah balairung untuk
main judi, atas rencana Duryodana. Draupadi, istri Pandawa, ingin ditelanjangi oleh kelompok Kaurawa, akan tetapi dapat diselamatkan oleh Krsna. Karena usaha licik Sangkuni, permainan dimenangkan selama
dua kali oleh Kaurawa sehingga sesuai perjanjian, Pandawa harus mengasingkan
diri ke hutan selama 12 tahun dan setelah itu melalui masa penyamaran selama
1 tahun. Kitab Wana Parwa berisi kisah Pandawa selama masa 12
tahun pengasingan diri di hutan. Dalam kitab tersebut juga diceritakan kisah Arjuna yang bertapa di gunung Himalaya untuk memperoleh
senjata sakti. Kisah Arjuna tersebut menjadi bahan cerita Arjuna Wiwaha. Kitab Wirata Parwa berisi kisah masa satu tahun penyamaran
Pandawa di Kerajaan Wirata setelah
mengalami pengasingan selama 12 tahun. Yudhistira menyamar sebagai ahli agama, Bhima sebagai juru masak, Arjuna sebagai guru tari, Nakula sebagai penjinak kuda, Sahadewa sebagai
pengembala, dan Draupadi sebagai
penata rias. Udyoga Parwa Kitab Udyoga Parwa berisi kisah tentang persiapan perang keluarga
Bharata (Bharatayudha). Krsna yang
bertindak sebagai juru damai gagal merundingkan perdamaian dengan Kaurawa. Pandawa dan Kaurawa mencari sekutu sebanyak-banyaknya di penjuru Bharata Warsha dan hampir seluruh Kerajaan India Kuno terbagi
menjadi dua kelompok. Kitab Bhisma Parwa merupakan kitab awal yang menceritakan
tentang pertempuran di Kuru Setra.
Dalam beberapa bagiannya terselip
suatu percakapan suci antara Krsna dan Arjuna menjelang perang berlangsung. Percakapan tersebut dikenal sebagai kitab Bhagawad Gita. Dalam kitab Bhisma Parwa juga
diceritakan gugurnya Rsi Bhisma pada hari kesepuluh karena
usaha Arjuna yang dibantu oleh
Srikandi. Kitab Drona Parwa menceritakan kisah pengangkatan Bhagawan Drona sebagai
panglima perang Kaurawa. Drona
berusaha menangkap Yudhistira,
tetapi gagal. Drona gugur di medan perang karena dipenggal oleh Drstadyumna ketika ia sedang tertunduk lemas mendengar kabar
yang menceritakan kematian anaknya, Aswatama. Dalam kitab
tersebut juga diceritakan kisah gugurnya Abhimanyu dan Gatotkaca. Kitab Karna Parwa menceritakan kisah pengangkatan Karna sebagai panglima
perang oleh Duryodana setelah gugurnya Bhisma, Drona,
dan sekutunya yang lain. Dalam kitab tersebut diceritakan gugurnya Dursasana
oleh Bhima. Salya menjadi kusir kereta Karna,
kemudian terjadi pertengkaran antara mereka. Akhirnya, Karna gugur di tangan Arjuna dengan senjata Pasupati pada hari ke-17. Kitab Salya Parwa berisi kisah pengangkatan Salya sebagai panglima perang Kaurawa pada hari ke-18.
Pada hari itu juga, Salya gugur di medan perang. Setelah ditinggal sekutu dan
saudaranya, Duryodana menyesali
perbuatannya dan hendak menghentikan pertikaian dengan para Pandawa. Hal itu menjadi ejekan para
Pandawa sehingga Duryodana terpancing untuk berkelahi dengan Bhima. Dalam
perkelahian tersebut, Duryodana gugur, tetapi ia sempat mengangkat Aswatama sebagai panglima. Kitab Sauptika Parwa berisi kisah pembalasan dendam Aswatama
kepada tentara Pandawa. Pada malam hari, ia bersama Kripa dan Kertawarma menyusup ke dalam kemah
pasukan Pandawa dan membunuh banyak orang, kecuali para Pandawa. Setelah itu
ia melarikan diri ke pertapaan Rsi Byasa. Keesokan harinya ia disusul oleh
Pandawa dan terjadi perkelahian antara Aswatama dengan Arjuna. Rsi Byasa dan Krsna dapat menyelesaikan permasalahan itu. Akhirnya Aswatama
menyesali perbuatannya dan menjadi pertapa. Kitab Stri Parwa berisi kisah ratap tangis kaum wanita
yang ditinggal oleh suami mereka di medan pertempuran. Yudhistira menyelenggarakan upacara pembakaran jenazah bagi mereka
yang gugur dan mempersembahkan air suci kepada Leluhur.
Pada hari itu pula Dewi Kunti menceritakan
kelahiran Karna yang
menjadi rahasia pribadinya. Kitab Santi Parwa berisi kisah pertikaian batin Yudistira
karena telah membunuh saudara-saudaranya di medan pertempuran. Akhirnya ia
diberi wejangan suci oleh Rsi Byasa dan Sri Krsna. Mereka menjelaskan rahasia dan
tujuan ajaran Hindu agar
Yudistira dapat melaksanakan kewajibannya sebagai Raja. Kitab Anusasana Parwa berisi kisah penyerahan diri Yudhistira kepada Rsi Bhisma untuk menerima ajarannya. Bhisma mengajarkan tentang
ajaran Dharma, Artha, aturan tentang berbagai upacara,
kewajiban seorang Raja, dan sebagainya. Akhirnya, Bhisma meninggalkan dunia dengan tenang. Kitab Aswamedhika Parwa berisi kisah pelaksanaan upacara Aswamedha oleh
Raja Yudhistira. Kitab
tersebut juga menceritakan kisah pertempuran Arjuna dengan para Raja di dunia, kisah kelahiran Parikesit yang semula tewas dalam
kandungan karena senjata sakti Aswatama, tetapi dihidupkan kembali oleh Sri
Kresna. Kitab Asramawasika Parwa berisi kisah
kepergian Dhrstarata, Gandari, Kunti, Widura, dan Sanjaya ke
tengah hutan, untuk meninggalkan dunia ramai. Mereka menyerahkan tahta
sepenuhnya kepada Yudhistira. Akhirnya Rsi Narada datang membawa kabar
bahwa mereka telah pergi ke surga karena dibakar oleh api sucinya sendiri. Kitab Mosala Parwa menceritakan kemusnahan bangsa Wresini. Sri Krsna meninggalkan
kerajaannya lalu pergi ke tengah hutan. Arjuna mengunjungi Dwarati dan mendapati bahwa kota tersebut telah kosong. Atas
nasihat Rsi Byasa, Pandawa dan Draupadi menempuh hidup “sanyasin” atau
mengasingkan diri dan meninggalkan dunia fana. Kitab Mahaprastanika Parwa menceritakan
kisah perjalanan Pandawa dan Drupadi ke puncak gunung Himalaya, sementara tahta kerajaan
diserahkan kepada Parikesit,
cucu Arjuna. Dalam
pengembaraannya, Drupadi dan para Pandawa (kecuali Yudhistira), meninggal dalam perjalanan. Kitab Swargarohana Parwa menceritakan kisah Yudhistira yang mencapai puncak gunung Himalaya dan dijemput untuk mencapai surga oleh Dewa Indra. Dalam
perjalanannya, ia ditemani oleh seekor anjing yang sangat setia. Ia menolak
masuk surga jika disuruh meninggalkan anjingnya sendirian. Si anjing
menampakkan wujudnya yang sebenanrnya, yaitu Dewa Dharma.
Komentar
Posting Komentar