Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2020

“SWEET SEVENTEEN” DALAM PEMAHAMAN HINDUISME

“ SWEET SEVENTEEN ” DALAM PEMAHAMAN HINDUISME   Oleh I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd Email: Ringofdevilbali@gmail.com   Dewasa ini banyak dijumpai kalangan remaja yang sudah berumur 17 tahun mengadakan acara ulang tahun dengan istilah “ Sweet Seventeen ”. Biasanya acara ini kerap dijadikan sebuah trend yang semakin lama semakin membudaya. Padahal bila dicermati, istilah Sweet Seventeen ini merupakan kebudayaan dari luar negeri. Namun seiring berjalannya waktu, Sweet Seventeen mengalami akulturasi budaya dan semakin terus berkembang hingga saat ini di Indonesia. Sweet Seventeen merupakan suatu istilah yang digunakan ketika seseorang menginjak masa remaja (umumnya 17 tahun). Dalam pemahaman Hinduisme, ketika seseorang menginjak masa remaja dinamakan dengan istilah “ Raja Sewala ”. Bagi laki-laki yang telah menginjak dewasa disebut dengan istilah “ Menek Teruna ”, sedangkan bagi yang perempuan disebut “ Menek Daha ” (Nala & Wiratmadja, 2012:264; Tim Penyusu...

MAKETUS: UPACARA TERLEPASNYA GIGI PERTAMA PADA ANAK

MAKETUS : UPACARA TERLEPASNYA GIGI PERTAMA PADA ANAK   Oleh I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd Email: Ringofdevilbali@gmail.com   Maketus berasal dari kata ‘ ketus ’ yang artinya ‘lepas/tanggal’. Maketus merupakan rentetan upacara Manusa Yadnya yang dilakukan pada saat terlepasnya gigi pertama pada anak atau pada saat anak mulai tanggal gigi (Renawati, 2019:377). Nala & Wiratmadja (2012:263) menyatakan bahwa pada saat upacara Maketus , gigi yang terlepas adalah gigi susu; kemudian akan diganti dengan gigi baru yang strukturnya lebih kuat. Lebih lanjut dijelaskan bahwa ketika terlepasnya gigi susu, yang kemudian diganti dengan gigi baru ini merupakan simbol dari mulai terpengaruhnya anak dengan sifat-sifat Tri Guna ( Sattva , Rajas , Tamas ). Pada saat inilah si anak mulai mempersiapkan diri untuk memasuki tahap Brahmacari , yaitu mulai dapat diberikan pelajaran tentang ilmu pengetahuan (Nala & Wiratmadja, 2012:263; Tim Penyusun, 1995:49). Pelaksanaan u...

NGEMPUGIN: UPACARA TUMBUH GIGI PADA ANAK

NGEMPUGIN : UPACARA TUMBUH GIGI PADA ANAK   Oleh I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd Email: Ringofdevilbali@gmail.com   Secara etimologi, Ngempugin dapat diartikan ‘membelah’. Arti ini dapat dianalogikan dengan terbelahnya gusi anak, karena giginya akan tumbuh (Tim Penyusun, 1984:77). Ketika gigi anak mulai tumbuh untuk pertama kalinya, maka pada saat itu dibuatkan suatu upacara. Permohonan saat ritual Ngempugin ditujukan kepada Tuhan dalam manifestasi-Nya sebagai Dewa Surya (Tim Penyusun, 1995:49). Upacara ini dilakukan pada saat matahari terbit dengan harapan agar munculnya gigi baru itu dapat memberikan pencerahan, kekuatan, dan kesehatan bagi si anak (Renawati, 2019:377; Nala & Wiratmadja, 2012:262 ). Maka dari itu, Dewa Surya yang diyakini sebagai penguasa matahari dimohonkan hadir agar memberikan sumber kekuatan kepada anak. Matahari sebagai sumber Vitamin D sangat baik untuk pertumbuhan gigi anak. Oleh sebab itu, upacara Ngempugin dilakukan pada saat...

OTONAN: UPACARA HARI KELAHIRAN BERBASIS LOCAL GENIUS

OTONAN : UPACARA HARI KELAHIRAN BERBASIS LOCAL GENIUS   Oleh I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd Email: Ringofdevilbali@gmail.com   Otonan merupakan suatu upacara peringatan hari kelahiran bagi umat Hindu di Bali. Kata Otonan berasal dari bahasa Jawa Kuno “ wetu ” atau “ metu ” yang artinya keluar, lahir, atau menjelma. Dari kata “ wetu ” menjadi “ weton ” kemudian berubah menjadi “ oton ”. Dari kata “ oton ” mendapat akhiran “ an ” sehingga menjadi kata “ Otonan ” (Renawati, 2019:377). Asal mula upacara Otonan dalam Kitab Suci Weda disebut dengan Cuda Karana ; yaitu upacara pemotongan rambut pertama kali bagi si bayi (Tim Penyusun, 1995:49; Nala & Wiratmadja, 2012:262). Upacara ini juga disebut dengan Annaprasana ; yaitu kegiatan secara simbolis si bayi memakan nasi untuk pertama kali, dan juga Tedak Siti yaitu ketika si bayi pertama kali menginjakkan kakinya ke tanah (Nala & Wiratmadja, 2012:262). Upacara Otonan ini dilaksanakan berdasarkan satu ta...

UPACARA NYAMBUTIN: PERMOHONAN DOA KEPADA IBU PERTIWI

UPACARA NYAMBUTIN : PERMOHONAN DOA KEPADA IBU PERTIWI   Oleh I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd Email: Ringofdevilbali@gmail.com   Upacara Nyambutin merupakan salah satu rangkaian dari upacara bayi yang baru lahir yang dilakukan pada saat bayi berumur 105 hari atau tiga bulan dari perhitungan Pawukon . Upacara ini sering juga disebut Nelubulanin dan Tuun Tanah (turun ke tanah). Disebut   Tuun Tanah karena pada saat umur 105 hari, si bayi mulai belajar duduk; mulai bersentuhan dengan pertiwi. Pada saat ini bayi dibuatkan upacara dengan tujuan untuk menyucikan si bayi secara niskala dan sebagai bentuk penyambutan terhadap bayi dengan pengesahan nama secara skala (Renawati, 2019; Nala & Wiratmadja, 2012; Suyasa, 2012). Upacara Nyambutin juga disebut dengan istilah Nishkrama Samskara (Tim Penyusun 1995:48). Dalam International Journal of Ayurveda and Allied Sciences Vol. 2, No. 12 yang berjudul “ The Childhood Samskaras (Rites of Passage) and Its Sci...

MAKNA UPACARA TUTUG KAMBUHAN (Perspektif Religio Kultural)

MAKNA UPACARA TUTUG KAMBUHAN (Perspektif Religio Kultural)   Oleh I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd Email: Ringofdevilbali@gmail.com   Upacara Tutug Kambuhan dilaksanakan saat bayi berusia 42 hari; jangka waktu enam minggu menurut perhitungan kalender Bali. Pada saat usia 42 hari; tali pusar bayi sudah terputus, lapisan kulit yang tipis sudah berganti, peredaran darah dan konsumsi makanan sudah lancar sehingga keringat, air mata, ludah, kencing, dan kotoran sudah keluar; serta bagi si ibu, aliran kotor dalam rahim sudah berhenti. [1] Upacara Tutug Kambuhan juga disebut dengan upacara Abulan Pitung Dina (Satu Bulan Tujuh Hari). Secara etimologi Tutug Kambuhan berasal dari bahasa Jawa Kuno ‘ kambuh ’ yang memiliki arti ‘semakin kuat’. Selain disebut dengan   Abulan Pitung Dina , Tutug Kambuhan juga disebut dengan nama Bajang Colongan ; akar katanya ‘ colong ’ yang artinya mencuri (Nala & Wiratmadja, 2012:261; Swarsi, 2004; Tim Penyusun, 1995:48). ...

NGELEPAS HAWON: SAKRALISASI ANTARA IBU DAN BAYI SETELAH KELAHIRAN 12 HARI

Gambar
NGELEPAS HAWON : SAKRALISASI ANTARA IBU DAN BAYI SETELAH KELAHIRAN 12 HARI   Oleh I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd   Ngelepas Hawon adalah rentetan upacara ke empat setelah upacara Kepus Puser . Ada juga yang menyebutkan upacara ini dengan nama ‘ Ngerorasin ’; karena upacara ini dilaksanakan setelah bayi berumur 12 hari. Secara etimologi Ngelepas Hawon terdiri dari akar kata lepas (melepaskan) dan aon (kotor) sehingga upacara ini mengandung arti melepaskan kotoran. Menurut Ida Pedanda Gde Manara Putra Kekeran (dalam Suyatra, 2017) makna filosofis   Ngarorasin berasal dari kata ‘ Ro ’ yang berarti dua dan ‘ Ras ’ yang berarti pisah. Secara harfiah, Ngelepas Hawon dan Ngerorasin memiliki persamaan makna yaitu melepaskan atau memisahkan kotoran secara niskala yang masih melekat pada ibu dan bayi. Lebih lanjut Nala & Wiratmadja (2012:260) menyatakan tujuan upacara ini adalah untuk memperkuat jiwatman dalam tubuh si bayi. Pada upacara inilah si bayi ...

KEPUS PUSER: TRANSFORMASI ENERGI KANDA PAT DAN PENYUCIAN BAYI SECARA SPIRITUAL

KEPUS PUSER : TRANSFORMASI ENERGI KANDA PAT DAN PENYUCIAN BAYI SECARA SPIRITUAL   Oleh I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd   Kepus Puser merupakan suatu upacara yang dilakukan oleh umat Hindu di Bali pada saat terlepasnya sisa tali pusar bayi. Tali pusar yang merupakan jalan penghubung makanan dari ibu ke janin melalui Ari-ari (placenta) selama dalam kandungan, sebagian kecil masih melekat sedikit pada perut bayi. Ketika sisa tali pusar bayi telah terlepas, maka dibuatkanlah suatu prosesi upacara yang sakral.   Tujuan upacara ini adalah untuk menyucikan secara spiritual jiwa dan raga si bayi. Mulai saat itulah si bayi akan diasuh oleh Sang Hyang Kumara, yang berstana di pelangkiran yang ada di atas tempat tidur si bayi. Pada pelangkiran tersebut kemudian dihaturkan sesajen berupa canang sari agar si bayi selamat hingga dewasa (Nala & Wiratmadja, 2012:260; Tim Penyusun, 48:1995). Sastrawan (2019) dalam penelitiannya yang dimuat pada Jurnal Genta Hreday...