NGELEPAS HAWON: SAKRALISASI ANTARA IBU DAN BAYI SETELAH KELAHIRAN 12 HARI
NGELEPAS
HAWON: SAKRALISASI
ANTARA IBU DAN BAYI SETELAH KELAHIRAN 12 HARI
Oleh
I Made Dwi
Susila Adnyana, M.Pd
Ngelepas Hawon adalah rentetan upacara ke empat
setelah upacara Kepus Puser. Ada juga
yang menyebutkan upacara ini dengan nama ‘Ngerorasin’;
karena upacara ini dilaksanakan setelah bayi berumur 12 hari. Secara etimologi Ngelepas Hawon terdiri dari akar kata lepas (melepaskan) dan aon (kotor) sehingga upacara ini
mengandung arti melepaskan kotoran.
Menurut Ida
Pedanda Gde Manara Putra Kekeran (dalam Suyatra, 2017) makna
filosofis Ngarorasin berasal dari kata ‘Ro’
yang berarti dua dan ‘Ras’ yang
berarti pisah. Secara harfiah, Ngelepas
Hawon dan Ngerorasin memiliki
persamaan makna yaitu melepaskan atau memisahkan kotoran secara niskala yang masih melekat pada ibu dan
bayi.
Lebih lanjut Nala
& Wiratmadja (2012:260) menyatakan tujuan upacara ini adalah untuk memperkuat
jiwatman dalam tubuh si bayi. Pada
upacara inilah si bayi disucikan dengan tirtha
pengelukat, kemudian didoakan agar selalu mendapat keselamatan. Catur Sanak si bayi (Yeh Nyom, Lamas, Rah, dan Ari-ari) pada upacara ini juga
dibersihkan dan akan berganti nama menjadi; Angga
Pati, Prajapati, Banas Pati, dan Banas Pati Raja.
Menurut Rai
(1992:24) upacara ini dilaksanakan di dalam pekarangan rumah yaitu di sumur, di
dapur, serta di sanggah kemulan yang dipimpin
oleh keluarga yang paling dituakan. Upacara yang dilakukan di sumur, di dapur, dan
di sanggah kemulan bertujuan untuk memohon
penyucian kehadapan Bhatara Brahma, Bhatara Wisnu, dan Bhatara Siwa, agar si ibu dan bayi mendapatkan keharmonisan serta terlepas
dari segala bentuk kekotoran.
Permohonan
kepada Dewa Tri Murti ini (Brahma,
Wisnu, Siwa) memiliki intensi adanya suatu penciptaan kekuatan untuk si ibu
agar dapat menjaga anaknya tumbuh berkembang hingga dewasa, serta mampu melebur
segala bentuk kekuatan negatif yang ingin mengganggu anaknya.
Proses
pelaksanaan yang dilakukan setelah bayi berumur 12 hari sesungguhnya memiliki
kekuatan spiritual yang sangat tinggi. Dalam Itihasa Mahabartha, angka 12 merupakan simbol dari tapa brata-nya Sang Pandawa selama 12 tahun
di hutan karena kekalahannya dalam permainan dadu dengan Kaurawa. Tidak hanya
itu, dalam Hinduisme, angka 12 juga dinyatakan memiliki kekuatan mistik yang
sangat dahsyat. Sangat
sering nomor 12 dianggap sebagai simbol kekuatan luar biasa.
Sharmasana (2014) dalam artikelnya yang berjudul “The Secret of Number 12”
menyatakan bahwa angka 12 lebih dari sekedar bilangan biasa. Angka ini memiki
kekuatan yang sangat hebat. Banyak afirmasi yang dinyatakan dalam Hinduisme
tentang angka ini, seperti contoh 12 Jyotirlinga
(Lingga yang dibentuk sendiri) Dewa Siwa di kuil-kuil Hindu di seluruh India
menurut tradisi Shaiva; Dewa Surya yang
memiliki 12 nama; 12 jumlah zodiak, dan masih banyak pernyataan tentang keunggulan
angka 12 dalam perspektif Hindu.
|
List
of Basic Calculations (Daftar Perhitungan Dasar) |
Dua belas dalam Mathematical Properties (sifat matematika) adalah angka luhur; angka yang memiliki jumlah pembagi sempurna, dan jumlah pembagi juga merupakan angka yang sempurna [1]. Dalam daftar perhitungan dasar, setiap perkalian angka 12 selalu berakhir dengan kelipatan genap (2, 4, 6, 8, dst). Ini dapat membuktikan bahwa angka 12 memiliki posisi yang unik dan sempurna.
Tidak hanya itu,
dalam penjumlahan angka 12 x 9 juga menghasilkan angka mistis 108. Dalam konteks
Hindu, 108 merupkan angka sakral Dewa Siwa, dan diyakini memiliki kekuatan
magis. Begitu juga dengan angka 9 dalam matematika merupakan angka tertinggi.
Jadi, angka 12 secara spiritual dan secara matematik benar-benar merupakan
angka yang sempurna.
Ketentuan pelaksanaan
upacara Ngelepas Hawon atau Ngerorasin yang mengambil waktu 12 hari
setelah kelahiran bayi dalam agama Hindu di Bali tidaklah asal-asalan.
Pengambilan waktu 12 hari dapat dijelaskan secara ilmiah dan juga secara
spiritual (skala-niskala). Ini dibuktikan dari adanya kekuatan mistis dibalik angka
12 tersebut. Dengan demikian, proses sakralisasi ibu dan bayi pada upacara Ngelepas Hawon akan menjadikan ibu dan
bayi bersih secara jasmani dan rohani.
DAFTAR PUSTAKA
Https://en.wikipedia.org/wiki/12_(number).
Nala, I Gusti Ngurah & Adia Wiratmadja. (2012). Murddha Agama Hindu. Denpasar: Upada
Sastra.
Rai, Dekaka. (1992). Pedoman
Praktis Pokok-pokok Pelaksanaan Upacara Manusa Yadnya. Jakarta: Prasasti.
Sharmasana, Abbas. D. (2014). The Secret of Number 12. (Online). Tersedia di https://www.thehindu.com/features/friday-review/history-and-culture//the-secret-of-number-12/article6155235.ece.
Suyatra, I putu. (2017). Ngarorasin Tak
Harus Dilaksanakan 12 Hari. Denpasar: Bali Expres (dimuat dalam https://baliexpress.jawapos.com/read/2017/ 09/17/14065/ngarorasin-tak-harus-dilaksanakan-12-hari).

Komentar
Posting Komentar