MAKETUS: UPACARA TERLEPASNYA GIGI PERTAMA PADA ANAK
MAKETUS: UPACARA TERLEPASNYA GIGI PERTAMA PADA ANAK
Oleh
I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd
Email:
Ringofdevilbali@gmail.com
Maketus berasal dari kata ‘ketus’ yang artinya ‘lepas/tanggal’. Maketus merupakan rentetan upacara Manusa Yadnya yang dilakukan pada saat terlepasnya gigi pertama
pada anak atau pada saat anak mulai tanggal gigi (Renawati, 2019:377). Nala
& Wiratmadja (2012:263) menyatakan bahwa pada saat upacara Maketus, gigi yang terlepas adalah gigi
susu; kemudian akan diganti dengan gigi baru yang strukturnya lebih kuat.
Lebih lanjut
dijelaskan bahwa ketika terlepasnya gigi susu, yang kemudian diganti dengan
gigi baru ini merupakan simbol dari mulai terpengaruhnya anak dengan
sifat-sifat Tri Guna (Sattva, Rajas, Tamas). Pada saat
inilah si anak mulai mempersiapkan diri untuk memasuki tahap Brahmacari, yaitu mulai dapat diberikan
pelajaran tentang ilmu pengetahuan (Nala & Wiratmadja, 2012:263; Tim
Penyusun, 1995:49).
Pelaksanaan
upacara Maketus ini memiliki makna
telah lahirnya seorang anak menjadi “manusia”. Dikatakan telah lahir menjadi
seorang “manusia” karena pada waktu ini, anak telah terpengaruh oleh sifat Tri Guna, dalam artian sudah dapat
membedakan hal-hal baik ataupun buruk. Apabila anak yang belum tanggal gigi (Maketus), ini dikatakan masih belum
disebut “manusia”.
Menurut Ida Shri
Bhagawan Dharma Yoga (Wawancara 23 Mei 2020) mengatakan bahwa pada saat anak
belum tanggal gigi, anak tersebut masih dikategorikan sebagai “perwujudan
dewata” atau “Meraga Dewa” yang
berarti masih suci. Oleh sebab itulah ketika ada anak yang meninggal pada waktu
giginya belum tanggal, dilakukan upacara Ngelungah.
[1]
Lebih lanjut
dinyatakan oleh Ida Shri Bhagawan Dharma Yoga bahwa ketika pertumbuhan gigi ke
dua setelah gigi susu, menandakan telah berubahnya status anak dari perwujudan
dewata (Meraga Dewa) menjadi manusia
sempurna. Maka dari itu, keluarga dari si anak wajib membuat suatu upacara yang
disebut Maketus.
Upacara Maketus ini erat kaitannya dengan proses
reinkarnasi leluhur yang akan menjelma kembali menjadi manusia. Dengan sarana banten sesayut, beakala, tatebus, dan daksina; leluhur akan turun menjelma
pada anak dan akan menjalani kehidupan untuk menebus karma terdahulu (Sancita Karma Phala).
DAFTAR PUSTAKA
Nala, I Gusti Ngurah & Adia Wiratmadja. (2012). Murddha Agama Hindu. Denpasar: Upada
Sastra.
Renawati, Wayan. P. (2019). Implementasi
Upacara Manusa Yadnya dalam Naskah Dharma Kahuripan (Perspektif Teologi
Hindu). Mudra: Jurnal Seni Budaya, Vol. (34) No. (3) ISSN 0854-3461.
Tim Penyusun. (1995). Bahan
Pendidikan dan Pengajaran Agama Hindu. Kantor Wilayah Departemen Agama
Provinsi Bali.
[1] Wawancara bersama Ida Shri
Bhagawan Dharma Yoga di Grya Dharma Sunia, Desa Lelateng, Kecamatan Negara,
Kabupaten Jembrana (Sabtu, 23 Mei 2020)
Komentar
Posting Komentar