OTONAN: UPACARA HARI KELAHIRAN BERBASIS LOCAL GENIUS

OTONAN: UPACARA HARI KELAHIRAN BERBASIS LOCAL GENIUS

 

Oleh

I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd

Email: Ringofdevilbali@gmail.com

 

Otonan merupakan suatu upacara peringatan hari kelahiran bagi umat Hindu di Bali. Kata Otonan berasal dari bahasa Jawa Kuno “wetu” atau “metu” yang artinya keluar, lahir, atau menjelma. Dari kata “wetu” menjadi “weton” kemudian berubah menjadi “oton”. Dari kata “oton” mendapat akhiran “an” sehingga menjadi kata “Otonan” (Renawati, 2019:377).

Asal mula upacara Otonan dalam Kitab Suci Weda disebut dengan Cuda Karana; yaitu upacara pemotongan rambut pertama kali bagi si bayi (Tim Penyusun, 1995:49; Nala & Wiratmadja, 2012:262). Upacara ini juga disebut dengan Annaprasana; yaitu kegiatan secara simbolis si bayi memakan nasi untuk pertama kali, dan juga Tedak Siti yaitu ketika si bayi pertama kali menginjakkan kakinya ke tanah (Nala & Wiratmadja, 2012:262).

Upacara Otonan ini dilaksanakan berdasarkan satu tahun Wuku, yakni enam bulan kali 35 hari atau setara dengan 210 hari. Jatuhnya Otonan akan sama dengan Sapta Wara, Panca Wara, dan Wuku yang sama, dalam arti otonan akan diperingati pada hari yang sama dan datangnya setiap enam bulan sekali.

Banyak refrensi yang menjelaskan tentang makna dan tujuan Otonan, salah satu tujuannya adalah untuk memperingatai hari kelahiran seseorang, sehingga yang bersangkutan mengetahui hari kelahirannya dan juga mengetahui umur berdasarkan kelahiran menurut Hindu. Namun seiring dengan berkembangnya zaman, hari kelahiran tidak lagi dikenal dengan istilah ‘Otonan’, melainkan dengan istilah ‘Ulang Tahun’.

Karyani (2013) menjelaskan bahwa Otonan sebagai tradisi budaya yang begitu religius kini mulai memudar seiring dengan perkembangan zaman. Banyak masyarakat khususnya umat Hindu yang mulai tidak peduli dengan peringatan hari kelahiran menurut agama yang dianutnya. Hal ini terjadi akibat perkembangan zaman yang begitu pesat. Budaya luar atau asing yang masuk ke daerah-daerah di tanah air semakin menggerus kebudayaan dan tradisi lokal yang ada dan telah diwariskan secara turun temurun.

Banyak yang menganggap bahwa tradisi Otonan sangat kuno dan banyak aturan yang harus diikuti dalam prosedur pelaksanaannya. Ulang tahun dianggap sangat sesuai untuk memeringati hari kelahiran seseorang karena ulang tahun sangat sesuai dengan perkembangan zaman di era modern. Apabila dicermati secara mendalam, upacara Otonan sangat memiliki nilai religius dibandingkan dengan ulang tahun.

Kegiatan ulang tahun pada dasarnya hanyalah sebuah seremonial yang banyak mengeluarkan biaya, namun tidak memiliki makna religius. Ini merupakan suatu rangkaian pesta yang dilakukan oleh kebudayaan luar. Berbeda halnya dengan upacara Otonan yang tidak memerlukan biaya besar dibandingkan dengan ulang tahun. Selain memiliki makna religius, Otonan juga merupakan seremonial Hindu berbasis Local Genius.

Sudah sepantasnya umat Hindu melaksanakan upacara Otonan karena hal ini sangat penting. Selain dapat meng-ajeg-kan nilai-nilai luhur tradisi Hindu Bali, pelaksanaan upacara Otonan juga dapat meningkatkan spiritualitas seseorang disetiap kelahirannya. Inilah salah satu wujud Local Genius umat Hindu di Bali yang perlu dipertahankan.

DAFTAR PUSTAKA

Karyani, Dwi. (2013). Lunturnya  Tradisi Budaya “Otonan”  Dikalangan Remaja  Hindu Pada Era Modern. Tersedia Online di https://gtcos.blogspot.com/ 2013/12/lunturnya-tradisi-budaya-otonan.html.

Nala, I Gusti Ngurah & Adia Wiratmadja. (2012). Murddha Agama Hindu. Denpasar: Upada Sastra.

Renawati, Wayan. P. (2019). Implementasi Upacara Manusa Yadnya dalam Naskah Dharma Kahuripan (Perspektif Teologi Hindu). Mudra: Jurnal Seni Budaya, Vol. (34) No. (3) ISSN 0854-3461.

Tim Penyusun. (1995). Bahan Pendidikan dan Pengajaran Agama Hindu. Kantor Wilayah Departemen Agama Provinsi Bali.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Cerita Rāmāyana

Sekilas Cerita Mahābhārata

SUGIHAN BALI: PENYUCIAN MIKROKOSMOS