Mitologi Keajaiban Bunut Bolong Kabupaten Jembrana



ABSTRAK
MITOLOGHI KEAJAIBAN OBYEK WISATA BUNUT BOLONG
 DI KECAMATAN PEKUTATATN KABUPATEN JEMBRANA
Oleh : I Made Dwi Susila Adnyana
E-mail : Ringofdevilbali@gmail.com
Mitologhi merupakan suatu kajian tentang mitos, legenda, maupun cerita rakyat yang suci. Bali Barat memiliki  objek wisata sakral yang disucikan yang bernama obyek wisata Bunut Bolong. Obyek wisata ini mempunyai mitologhi dimana jika ada orang yang melakukan upacara pawiwahan kemudian lewat bunut bolong akan menemukan sengkala seperti halnya tidak mempunyai keturunan. Selain itu terdapat juga beberapa kejadian seperti penampakan perwujudan naga, macan gading, dan beberapa kejadian aneh lainnya. Bunut bolong merupakan pohon besar yang tumbuh di tengah jalan dengan lubang besar di tengahnya. Bunut bolong merupakan satu – satunya di dunia pohon yang memiliki lubang besar ditengahnya. Keunikan dan kesakralan bunut bolong membuat tempat ini dijadikan obyek wisata. Selain itu, mitologhi keajaiban tempat ini menjadikan obyek wisata yang disucikan oleh masyarakat setempat.
Kata kunci     : Bunut Bolong, Mitologhi.





I.     PENDAHULUAN
Bali terkenal dengan budaya, seni, pariwisata, dan keindahan alamnya. Tak hanya masyarakat lokal yang senang mengagumi akan keindahan alamnya namun wisatawan asing di manca negara pun juga sangat tertarik dengan keindahan pariwisata Bali sehingga membuat Pulau Bali menjadi sangat terkenal di seluruh Dunia. Banyak daerah obyek wisata di Bali yang sudah mendunia seperti Kuta, Lovina, Nusa Dua, Ubud, Tanah Lot, Sanur dan masih banyak obyek wisata lainnya. Namun ada juga beberapa obyek wisata di Bali yang masih belum terjelajahi dan di kenal oleh wisatawan manca negara. Salah satunya adalah obyek wisata “Bunut Bolong” yang berada di kawasan Bali bagian barat yaitu tepatnya di Desa Bunut Bolong, Kecamatan Pekutatan, Kabupaten Jembrana.
Obyek wisata Bunut Bolong merupakan suatu obyek wisata yang sakral dan banyak memiliki mitologhi keajaiban-keajaiban mistis. Dari cerita masyarakat lokal setempat Bunut Bolong ini merupakan “Kori Agung Candi Bentar  Nak Di Wengi” yaitu pintu gerbang yang megah kehidupan alam gaib (niskala). Konon, dulu pernah kejadian ada seorang pengemudi truck yang ingin melintas melewati Bunut Bolong tersebut, namun seketika pohon bunut yang tadinya bolong atau berlubang tiba tiba menjadi tertutup. Setelah sang pengemudi turun lalu menghaturkan sesaji dan berdoa, pohon bunut tersebut kembali terbuka. itulah salah satu kejadian aneh dan mistis di kawasan Bunut Bolong ini. Tidak hanya itu, banyak juga warga setempat yang pernah melihat buntut ekor ular yang besarnya sebesar tubuh gajah. Ada juga yang mendengar raungan macan dan ada juga yang langsung melihat sosok macan gading yang hilang dengan sekejap. Yang paling mistis dan sakral dari kejadian tersebut, ada suatu kejadian nyata yang pernah dialami masyarakat disana yaitu seorang yang sedang melakukan pawiwahan yang melewati bunut bolong kemudian setelah itu tidak mendapatkan keturunan dalam kurun waktu yang lama. Kemudian setelah nunas piuning ke pura yang ada di sebelah bunut bolong dengan menghaturkan sesaji disana dan meminta maaf bahwa secara tidak sengaja dan tidak tahu bahwa bunut bolong itu kawasan sakral setelah beberapa bulan kemudia diberikanlah keturunan. Itulah salah satu kesakralan daerah bunut bolong itu dan membuat peneliti ingin meneliti tempat ini karena terdapat keunikan dan keajaiban yang terdapat di bunut bolong Kecamatan Pekutatan Kabupaten Jembrana
Masyarakat Bali dari turun temurun pada umumnya percaya dengan suatu hal yang dianggap sakral. Dalam masyarakat Hindu Bali  mempercayai bahwa disetiap tempat memiliki kekuatan yang sakral. Tidak hanya tempat melaikan dalam binatang dan tumbuhan pun diyakini memiliki roh. Alam pun dalam masyarakat Hindu diyakini memiliki roh atau jiwa. Sejarah dunia telah mencatat bahwa agama Hindu adalah agama yang memiliki segala macam konsep isme atau kepercayaan yang dalam pengertian yang benar didalamnya mengandung juga kepercayaan animisme. (Donder, 2006:138). Animisme merupakan suatu paham bahwa alam ini atau semua benda memiliki roh atau jiwa. (Maulana, 2003:19). Animisme adalah keyakinan akan adanya roh bahwa segala sesuatu di alam semesta ini didiami dan dikuasai oleh roh yang berbeda – beda pula.(Titib, 1998:86). Masyarakat Hindu Bali pada umumnya mempercayai dan meyakini bahwa alam semesta ini memiliki roh atau jiwa. Termasuk juga pada tumbuhan. Oleh karena itulah mengapa di Bali banyak dilihat pohon besar dihiasi dengan kain hitam putih (poleng) yang disimboliskan sama dengan manusia karena masyarakat Hindu Bali meyakini bahwa ada roh yang menjiwai pohon tersebut. Sama halnya dengan pohon bunut yang ada pada obyek wisata bunut bolong, masyarakat meyakini bahwa terdapat roh yang menjiwai pohon bunut tersebut sehingga masyarakat mensucikan tempat itu  dan mensakralkan kawasan tersebut.
Dalam pandangan agama lain (non Hindu), menyembah sesuatu seperti halnya pohon, benda, dll itu di sebut musrik. Namun dalam agama Hindu khususnya di Bali memandang bahwa semua tempat itu meiliki roh. Agama Hindu juga meyakini bahwa tuhan ada dimana – mana (wyapi wyapaka). Eksistensi suatu agama dan kebenaran ajarannya sama sekali tidak ditentukan oleh agama lain. Tidak ada suatu agama pun yang memiliki otoritas untuk itu (Madrasuta, 1998:66). Dalam (Bhagavad Gita. VII – 6) di jelaskan :
 “Aham krtsnasya jagatah, Prabhavah pralayas tatha
Artinya :
“Aku adalah asal mula dan leburnya alam semesta ini”

Dapat ditafsirkan dari penjelasan Bhagavad Gita. VII-6 yaitu alam semesta adalah asal mula dan akhir dari dunia. Alam semesta juga memiliki roh. Ada Tuhan disetiap kehidupan alam. Termasuk juga dalam pohon bunut bolong yang diyakini sakral oleh masyarakat. Hal yang sama juga dijelaskan dalam sloka Sarasamuccaya 135 :
haywa tan maasih ring sarwa prani, apan ikang prana ngarania, ya ika nimitaning kapagehan ikang catur marga, nang Dharma, Artha, Kama, Moksa
Artinya :
              “jangan tidak menaruh belas kasihan pada semua mahluk hidup, karena kehidupan mereka itu tetap terjamin tegaknya catur marga yaitu, Dharma, Artha, Kama, Moksa
            Dengan cara bersikap harmonis terhadap kehidupan alam semesta, maka seluruh kehidupan dunian akan terjaga. Seperti halnya umat Hindu mempunyai empat jalan untuk menuju kelepasan (moksa), harus melewati tahap – tahap.

II.  PEMBAHASAN
Bunut bolong adalah satu – satunya pohon bunut yang berada ditengah jalan dengan batang kayunya yang berubang besar didunia. Besar lubang dibatang kayu bunut bolong ini selebar truck pemuat galian C sehingga sangat dilihat unik oleh orang – orang yang melewatinya sehingga dijadikan obyek wisata oleh pemerintah setempat. Selain keunikan dari pohon bunut yang berlubang besar, terdapat pula mitologhi keajaiban yang terdapat dalam kawasan bunut bolong ini sehingga membuat obyek wisata ini menjadai tambah sakral. Selain itu, masyarakt sekitar juga mengalami langsung keajaiban – keajaiban yang ada di kawasan bunut bolong ini dan akhirnya obyek wisata bunut bolong ini menjadi tempat yang sering dijadikan tempat semadi spiritual.

2.1    Obyek Wisata Bunut Bolong
Obyek wisata bunut bolong berada di wilayah Bali bagian barat tepatnya di Kabupaten Jembrana, Kecamatan Pekutatan, Desa Bunut Bolong. Nama desa dan obyek wisata tersebut diambil dari suatu pohon bunut besar yang di tengahnya terdapat lubang besar. Dari sanalah tercipta nama desa dan obyek wisata ini. Sebelum menjadi suatu obyek wisata, pohon bunut ini sudah ada sejak 500 Tahun namun pohon ini masih tertutup dan belum terlubangi. Dari cerita lisan secara turun – temurun, pohon bunut yang masih rapat itu dilubangi pada zaman penjajahan Belanda karena pohon bunut ini menghalangi jalan alternatif tentara belanda untuk beraktifitas sehingga penjajah Belanda memutuskan untuk melubangi pohon bunut itu dengan masyarakat setempat sebagai buruh kerja paksa penjajah Belanda. Pada saat pembuatan lubang pada pohon bunut itu, banyak terjadi peristiwa magis mulai dari suara auman keras yang terdengar, kemudian angin keras yang menimpa terus menerus hingga akhirnya satu persatu buruh yang bekerja banyak yang mati. Dalam proses pembuatan lubang hingga menjadi besar, peristiwa yang sama terus terjadi hingga akhirnya ada suatu peristiwa aneh terjadi. Sembilan buruh yang dipekerjakan mengalami kesurupan dan ada pawisik mengenai pohon bunut itu ternyata merupakan Candi Agung Niskala yang tidak boleh dirusak. Dari sanalah muncul mitologhi kejadian tentang bunut bolong yang sakral dan dijakan kawasan suci.
Bali sangat kental dengan kepercayaan – kepercayaan religiusnya. Masyarakat Bali menganggap ada beberapa tempat yang memang dijadikan kawasan suci seperti mata air, gunung, laut, dan salah satunya adalah pohon besar. Namun tidak semua pohon besar itu dianggap suci, tergantung darimana proses sakralisasi tersebut. Planet bumi tempat semua mahluk hidup menyelenggarakan kehidupannya ini dibangun oleh lima unsur yang disebut Panca Maha Bhuta yang terdiri dari Prthivi (tanah), Apah (cair), Teja (panas), Bayu (udara), dan Akasa (ether) yang semua unsur – unsur alam ini meiliki hukumnya sendiri untuk bereksistensi memberi kontribusi pada kehidupan mahluk lain isi alam ini (Wiana, 2007:154). Jika dikaji dalam konsep Tri Hita Karana, umat manusia sudah sepantasnya melakukan hubungan harmonis terhadap alam lingkungan (palemahan) karena alam itu merupakan badan jasmani Tuhan.  Agama hindu khususnya di Bali memandang alam semesta yang maha luas yang disebut Bhuwana Agung dan umat manusia adalah Bhuwana Alit. Maka dari itu antara kehidupan umat manusia dengan segala hakekat alam harus berjalan harmonis. Begitu pula dengan keberadaan Bunut Bolong dengan kesakralannya yang ada ditengah – tengah masyarakat sekitar menjadi suatu ketrikatan sendiri.

2.2    Mitologhi Keajaiban Bunut Bolong
Setelah mengetahui bagaimana keberadaan sakralisasi obyek wisata bunut bolong seperti apa yang dijelaskan diatas, ada beberapa mitologhi keajaiban-keajaiban yang pernah dialami masyarakat sekitar dan beberapa orang yang pernah melitas di areal obyek wisata bunut bolong. Mitologhi berasal dari bahasa Yunani yang terdiri dari dua kata “muthos” yang artinya cerita dan ”logos” yang artinya ilmu. Jadi mitologhi adalah ilmu tentang kesusastraan yang mengandung konsep tentang dongeng suci, kehidupan para dewa, dan makhluk halus dalam suatu kebudayaan (Marcel, 2010:173). Berdasarkan wawancara dengan salah satu tokoh masyarakat desa bunut bolong yaitu I Wayan Pageh Astika yang menjadi wakil kelian adat bunut bolong mengatakan bahwa keajaiban yang pernah teradi adalah ada seorang pengantin yang melintasi lubang bunut bolong ini tidak mempunyai keturunan dengan kurun waktu cukup lama. Namun setelah dipertanyakan kepada paranormal ternyata kasusnya adalah ketika mereka sewaktu melintasi bunut bolong ini tidak menghaturkan sesaji dan lewat begitu saja. Setelah melakukan proses upacara keagamaan dengan didampingi pemangku serta prajuru desa ditempat itu dan setelah memohon maaf kepada penunggu disana, beberapa bulan kemudian pasangan pengantin itu memiliki keturunan. Semenjak itulah dibuatkan jalur khusus untuk orang menikah yang ingin melewati jalur bunut bolong tersebut.
Jika dikaji secara akal logika memang agak tidak masuk akal. Namun kepercayaan masyarakat Hindu Bali akan hal yang bersifat spiritual sangat kental sekali. Dalam ajaran agama hindu terdapat unsur kepercayaan terhadap tumbuh – tumbuhan yang dianggap keramat yaitu konsep Totenisme tentang tumbuh tumbuhan (Donder, 217:2006). Perspektif semacam itu juga ditemukan dalam kitab Bhagavadgita, X – 26.
Asvatthah sarvavriksanam
artinya : “ diantara kayu – kayuan, Tuhan adalah Asvatha
Asvatha yang dimaksud disini adalah pohon bunut itu sendiri yang diyakini bahwa ada keberadaan Tuhan disana.
Pohon bunut bolong ini merupakan suatu kepercayaan yang diyakini secara turun temurun oleh masyarakat disana sampai saat ini sehingga tidak ada yang berani mengusak – asik bahkan menentang kesakralan tempat ini. Mengapa banyak kejadian – kejadian aneh yang terjadi jika ada orang yang bertindak sewenang – wenang karena dari awal kisah pohon bunut yang semula tertutup rapat dan kemudian dilubangi itu membuat due yang ada pada tempat itu menjadi marah sehingga dibuat suatu pantangan yaitu barang siapa seseorang yang melintas di tempat ini dengan sikap sewenang – wenang maka akan mendapat malapetaka. Ibaratkan sebuah rumah yang semula berdiri kokoh kemudian dirusak, tentu akan membuat pemiliknya marah. Begitulah yang terjadi pada pohon bunut itu, jawab bapak Wayan Pageh.
Disekitar lokasi obyek wisata bunut bolong terdapat tempat suci yaitu Pura Bujangga Sakti yang mempunyai keterkaitan dengan pohon bunut bolong. Kata bapak Wayan Pageh, dulu ada seorang pendeta yang bersemedi di Pura Bujangga Sakti. Setelah lama bersemedi lalu turun hujan disertai petir yang ganas sehingga membuat persemedian pendeta ini terganggu dan terselesaikan. Setelah beliau selesai semedi, beliau melihat naga besar mengelilingi pohon bunut bolong itu dan terdapat dua macan gading di sebelah kanan dan kiri pohon. Dari persemedian pendeta tersebut lalu memberitahu pemangku dan masyarakat sekitar bahwa due pohon bunut bolong tersebut adalah naga dan dijaga oleh macan gading dengan cara pelaksanaan upacara untuk mensakralkan bunut bolong tersebut melalui persembahyangan di Pura Bujangga Sakti. Semenjak itulah kemudian disisi kiri dan kanan pura dibuatkan patung macan gading sebagi simbolis bahwa macan gading tersebut adalah penjaga  obyek wisata bbunut bolong.

Naga di areal bunut bolong merupakan pemilik bunut bolong tersebut. Jika masyarakat sekitar menyebutnya dengan istilah due atau ancangan. Masyarakat hindu bali mempercayai bahwa naga merupakan dewa seperti halnya Naga Anantabhoga, Naga Basuki yang di percayai sebagai pelindung jagat. Naga merupakan suatu simbolis tali pengikat dimana dalam kakawin Ramayana ada istilah senjata naga yang disebut “nagastrapasa” yang artinya senjata tali atau perangkap dari naga (Titib, 2009:391).
Jadi dapat dikatakan bahwa ancangan naga pada obyek wisata bunut bolong tersebut merupakan suatu pengikat agar orang yang melewati tidak melakukan hal yang semena – mena.

2.3    Perspektif Masyarakat Sekitar Terhadap Mitologhi Keajaiban Bunut Bolong
Masyarakat desa pakraman bunut bolong meyakini bahwa pohon bonut yang ada pada obyek wisata bunut bolong tersebut memiliki mitologhi keajaiban – keajaiban mistis yang tidak bisa dikaji melalui akal logika sehingga masyarakat sekitar tidak berani untuk menggagu gugat kesakralan tempat tersebut. Dari wawancara bersama seorang mantan kepala desa yang saat ini menjadi pemuka agama Hindu (pemangku) yang bernama Jro Mangku Gusti Aji Suanda mengatakan bahwa Pura Bujangga Sakti tersebut dulunya berada bersebelahan dengan pohon bunut bolong. Setelah ada pawisik dari pendeta yang bersemedi disana, kemudian pura itu dipindahkan ke arah selatan sejauh 7 meter. Setelah pemindahan Pura tersebut terlihat lingga siwa yang sekarang disakralkan oleh masyarakat setempat. Selain kejadian orang menikah yang melewati pohon   bunut ini tidak mempunyai keturunan. Menurut cerita bapak Cokorda Gede Putra salah salah satu masyarakat lokal mengatakan jika ada orang meninggal yang dilewatkan ke jalur bunut bolong ini juga pernah ada kejadian. Salah satu kejadiannya adalah wadah peti mati yang semula diyakini cukup untuk melintasi areal bunut bolong tersebut menjaditidak muat. Hal itu disebabkan karena keadaan orang meninggal itu berarti leteh (kotor). Maka dari itu tidak diijinkan untuk melewati bunut bolong karena bunut bolong merupakan kawasan suci yang disakralkan. Itulah sebabnya dibuatkan rambu-rambu bahwa jika ada orang menikah atau meninggal tidak boleh lewat jalan utama sehingga dibuatkan jalan alternatif. Begitalah perspektif masyarakat tentang keberadaan bunut bolong tersebut beserta mitologhi keajaiban – keajaibannya.

III.    KESIMPULAN
Obyek wisata bunut bolong merupakan suatu obyek wisata suci yang disakralkan keberadaanya. Banyak mitologhi kejadian – kejadian aneh yang terjadi disekitar obyek wisata tersebut mulai dari cerita naga, auman macan, orang menikah yang tidak punya keturunan setelah melewati tempat itu, hingga wadah peti mati orang meninggal yang tak bisa melewati batas lubang pohon bunut. Juga kejadian – kejadian lain seperti saat pemindahan pura ditemukan lingga siwa. Dari saat itulah masyarakat sekitar tidak berani mengusak asik pohon bunut bolong tersebut dan mensakralkan tempat ini menjadi kawasan suci. Saatitu pula masyarakat meyakini mitologhi kejadian aneh yang terjadi hingga saat ini. Karena keanehan dan keunikan tempat ini dimana ada pohon bonut yang tumbuh di tengah – tengah jalan dengan lubang besar membuat tempat ini dijadikan obyek wisata dengan ciri khas pohon berlubang ditengah jalan yang satu – satunya ada di dunia.

 DAFTAR PUSTAKA

Donder, I Ketut. 2006. Brahmavidya Teologi Kasih Semesta. Surabaya. Paramita.
Kajeng, I Nyoman. 1997. Sarasamuccaya Dengan Teks Bahasa Sansekerta Dan Jawa Kuna. Surabaya. Paramita
Madrasuta, Ngakan Made. 1998. Hindu Diantara Agama Agama . Denpasar. Upada Sastra.
Marcel Danesi. 2010. Pesan, Tanda, Dan Makna Buku Teks Dasar Mengenai Simiotika Dan Teori Komunikasi. Yogyakarta. Jalasutra
Maulana, Achmad. 2003. Kamus Ilmiah Popuer. Yogyakarta. Absolut.
Pudja, G. 2010. Bhagawad Gita (Pancama Veda). Surabaya. Paramita.
Titib, I Made. 1998. Veda Sabda Suci Pedoman Praktis Kehidupan. Surabaya. Paramita.
Titib, I Made. 2009. Teologi Dan Simbol – Simbol Dalam Agama Hindu. Surabaya. Paramita.
Wiana, I Ketut. 2007. Tri Hita Karana Menurut Konsep Hindu. Surabaya. Paramitha

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Cerita Rāmāyana

Sekilas Cerita Mahābhārata

SUGIHAN BALI: PENYUCIAN MIKROKOSMOS