Sistem Parampara Sebagai Teknologi Pendidikan Hindu
SISTEM PARAM-PARA
SEBAGAI TEKNOLOGI
PENDIDIKAN HINDU
Oleh : I Made Dwi Susila
Adnyana, S.Pd
E-mail : Ringofdevilbali@gmail.com
ABSTRAK
Param-Para adalah pentransferan ilmu pengetahuan dari Rsi (guru) kepada para sisya (siswa) melalui sistem belajar
yang menekankan sikap mulia, sopan santu, etika yang baik, dan kedisplinan
sehingga apa yang telah diajarkan guru tidak hanya mengacu pada ilmu pengetahuan,
namun juga sikap spiritual dan kemuliaan. Dari sistem belajar Param-Para, siswa tidak hanya dituntut
pintar, namun juga mulia. Ini merupakan suatu teknologi pendidikan menurut
agama Hindu. Melihat situasi perkembangan zaman yang semakin pesat, guru sebagai
pendidik khususnya pendidikan agama Hindu harus bisa memilih dan memilah
teknologi yang tepat sehingga nantinya mampu mengajarkan siswa agar dapat
belajar interaktif. Guru sebagai fasilitator harus dapat menguasai materi
dengan sempurna dan mampu mengaplikasikan ke dalam pembelajaran. Pada saat
pengaplikasian tersebut, setidaknya selipkanlah ajaran-ajaran agama dan budi
pekerti sehingga siswa mengerti peranan agama dalam kehidupan yang tertayang
melalui media tersebut. Oleh sebab itu, terapkanlah selalu ajaran-ajaran dharma atau kebaikan dalam pembelajaran
karena guru yang bijak akan menciptakan siswa yang mulia. Begitulah
sesungguhnya teknologi pendidikan menurut ajara agama Hindu yang disebut dengan
sistem Param-Para.
Kata kunci : Param-Para, Sistem Belajar, Pendidikan
Hindu, Teknologi.
I.
PENDAHULUAN
Peroses belajar sudah
dilakukan sejak dahulu kala. Belajar merupakan suatu proses yang bertujuan
untuk menciptakan manusia yang ber SDM tinggi. Salah satu tujuan bangsa
Indonesia yang tercakup dalam UUD 45 juga mengatakan bahwa mencerdaskan
kehidupan bangsa. Melalui pembelajaran maka kita dituntut untuk dapat menjadi
manusia yang berpotensi. Skinner
(dalam Dimyati & Mudjiono 2006 : 9) berpandangan bahwa belajar adalah suatu
prilaku. Pada saat orang belajar, maka responnya menjadi lebih baik. Sedangkan
Winkel (1996:53) menyatakan bahwa belajar adalah suatu aktivitas mental atau
psikis yang berlangsung dalam interaksi aktif dengan lingkungan yang
menghasilkan perubahan – perubahan dalam pengetahuan pemahaman, keterampilan,
dan nilai sikap. Menurut (Riyanto, 2009:4) seseorang dapat dikatakan belajar
kalau dapat melakukan sesuatu dengan cara latihan-latihan sehingga yang
bersangkutan menjadi berubah. Dapat dikatakan bahwa melalui belajar manusia
akan dapat berfikir ke arah yang lebih baik. Belajar juga merupakan proses
melihat, mengamati, dan memahami sesuatu (Sudjana, 1989:28). Jadi belajar pada
hakekatnya adalah proses interaksi terhadap semua situasi yang ada disekitar
individu.
Konsep belajar dalam
agama Hindu disebut dengan sistem Param-Para
(Bahasa Sansekerta). Ini merupakan teknologi pendidikan dalam ajaran Hindu.
Sistem Param-Para ini merupakan
sistem belajar yang dilakukan siswa kepada guru dengan penuh keikhlasan,
beretika, tata krama yang baik, dan taat terhadap apa yang diajarkan guru
kepada siswa. Jadi tidak heran jika out
put siswa pada zaman dahulu lebih berkarakter, disiplin, taat, dan hormat
kepada guru. Karena apa yang diajarkan guru diterima baik kepada siswa secara.
Sistem Param-Para ini tidak hanya
mengajarkan siswa kepada ilmu pengetahuan saja, tetapi juga menekankan
spiritualitas yang tinggi kepada siswanya.
Dalam UU No 20 Tahun
2003 dijelaskan mengenai hak setiap warga Indonesia wajib mendapatkan
pendidikan dan diselenggarakan secara demokratis, adil, dan tidak
diskriminatif. Pendidikan pada dasarnya adalah suatu eksperimen yang tidak
pernah selesai sampai kapanpun, maka dari itu ada pernyataan “Long Life Edugation“ yang artinya
pendidikan tak pernah ada habis - habisnya sepanjang masa. Seperti pepatah
mengatakan “Kejarlah Ilmu Setinggi–tingginya”. Dalam GBHN 1978 juga dinyatakan
bahwa pendidikan berlangsung seumur hidup dan dilaksanakan didalam lingkungan
rumah tangga, sekolah, dan masyarakat. Darmaningtyas (dalam Naim dan Sauqi,
2008:29-30) juga menyatakan bahwa pendidikan adalah usaha sadar dan sistematis
untuk mencapai taraf hidup atau kemajuan yang lebih baik. Dengan demikian tidak
semua usaha memberikan bekal pengetahuan kepada anak didik dapat disebut dengan
pendidikan jika tidak memnuhi kriteria yang dilakukan secara sistematis dan
sadar. Jadi bisa disimpulkan bahwa pendidikan merupakan suatu kewajiban yang
harus didapatkan oleh setiap manusia karena melalui pendidikan maka manusia itu
akan dapat berfikir yang lebih baik. Dengan manusia yang berpendidikan maka
sumber daya manusia akan semakin meningkat.
Pendidikan menurut
ajaran agama Hindu pada zaman dahulu hingga saat ini menggunakan sistem yang
disebut Param-Para. Sistem Param-Para ini sangatlah mengedepankan pendidikan tentang karakter,
spiritualitas, dan ilmu pengetahuan yang diajarkan guru terhadap siswanya
dengan etika belajar yang disiplin. Donder (2006:23) mengatakan bahwa sistem Param-Para yang dilakukan sangat
menekankan etika berguru. Untuk memperoleh ilmu dari seorang Rsi (guru) maka setiap siswa dituntut
untuk melaksanakan tata krama, sopan santun setiap hari secara displin karena
tanpa melaksanakan itu semua siswa tidak berhak memperoleh ilmu dari seorang
guru atau Rsi. Hal ini dilakukan agar
para siswa setelah selesai menuntut ilmu akan mampu menjaga nama baik perguruan
dan tidak mencermarkan nama perguruan atau nama asram dimana para siswa menuntut ilmu. Jadi mengapa pendidikan pada
zaman dahulu sangat mencetak output
yang unggu, berkarakter, displin, dan memiliki sikap spiritualitas yang tinggi
karena sistem berguru yang diajarkan guru kepada siswa sangat menekankan aspek
etika dan budi pekerti yang luhur.
II. PEMBAHASAN
Menekankan sistem belajar
menurut agama Hindu (Param-Para)
merupakan suatu teknologi pendidikan Hindu yang pada dasarnya mampu mengubah
prilaku siswa untuk menjalakan ajaran-ajaran dharma. Untuk menghindari ketimpangan-ketimpangan dalam dunia
pendidikan dewasa ini, perlu dipupuk ajaran-ajaran agama dan budi pekerti di
dalamnya. Param-para merupakan suatu
sistem belajar yang mampu mengajarkan ilmu pengetahuan dan juga spiritualitas.
Begitu pula realisasinya ke dalam dunia pendidikan hindu sehingga tercipta
siswa yang mulia dan berbudi pekerti luhur.
2.1 Sistem Param-Para
Sistem belajar dalam
agama Hindu yang dilakukan oleh para maha Rsi
(guru) di India disebut dengan Param-Para.
Sistem belajar ini tidak hanya memfokuskan pada pentransferan ilmu pengetahuan
saja namun juga mengajarkan disiplin dan spiritualitas. Sitem belajar Param-Para ini juga merupakan sistem
belajar yang beretika dan mengutamakan kedispilan baik dari guru maupun siswa
yang belajar. Etika-etika dalam pembelajaran sangat wajib diterapkan karena ini
merupakan kunci terciptanya karakter guru maupun siswa yang berbudi pekerti
luhur. Seperti yang kita ketahui saat ini banyak fenomena-fenomena yang sangat
memprihatinkan khususnya dalam bidang pendidikan. Banyak sekali ditemukan kasus
guru mencabuli anak didiknya, siswa yang tawuran, siswi yang hamil kemudian
bayinya dibuang di tong sampah, dan masih banyak lagi kasus-kasus yang sangat
memprihatinkan. Hal ini menyebabkan kurangnya penanam pendidikan karakter yang
tercermin. Beda halnya seperti zaman dulu dimana pendidikan yang berlangsung
mampu mencetak output yang unggul.
Itu karena pola pendidikan guru ataupun siswa pada zaman dulu sangat menegakkan
etika belajar ataupun berguru. Donder (2008:91) mengatakan bahwa guru sebagai
pendidik harus memiliki keutamaan yaitu guru tidak boleh mengekang siswanya
apalagi jika menggertak dengan tidak meluluskan siswanya jika tidak mau
mengikuti keinginannya. Hal ini tentu tidak patut sekali untuk dicontoh. Begitu
pula sebaliknya siswa yang menjaili gurunya karena benci terhadap sikap guru.
Sangat menjadi ketimpangan sekali hal ini dengan tujuan utama pendidikan yaitu
memanusiakan manusia sebagai manusia.
![]() |
| Gambar ilustrasi sistem belajar Param-Para sebagai teknologi pendidikan Hindu (sumber: templepurohit.com |
Seorang siswa sejak
dini harus menghendaki buah perbuatan yang suci.buah perbuatan yang suci itu
hanya dapat diperoleh dengan melakukan perbuatan-perbuatan dharma atau kebajikan kepada setiap orang. Donder (2006:100).
Itulah seharusnya yang patut dilakukan oleh setiap siswa. Jika siswa sudah
berani mencelakai gurunya, itu sudah sangat menyimpang sekali dengan apa yang seharusnya menjadi
kewajiban siswa yaitu menghormati guru. Apalagi dengan fonomena seperti
sekarang ini dimana siswa yang seharusnya mengenyam dunia pendidikan tapi malah
tawuran yang menyebabkan kasus kriminalitas. Itu sangat bertolak belakang
sekali dengan hak dan kewajiban menjadi siswa. Jika guru pendidikan agama Hindu
mampu menerapkan ajaran kedisplinan, spiritual, sopan santu, dan beretika
seperti bagaimana cara Rsi mendidik sisya (siswa) nya bagaikan sistem
belajar Param-Para, maka tidak akan
adalagi kasus-kasus atau fenomena fenomena yang menyebabkan ketimpangan dalam
dunia pendidikan. Sistem Param-Para
merupakan ajaran suci tentang sistem belajar. Apapun yang dilakukan dengan dasar
dharma atau kebaikan, maka Tuhan
senantiasa melindungi dan menuntun umatnya kedalam jalan kebahagiaan.
2.2 Param-Para
Sebagai Teknologi Pendidikan Hindu
Pendidikan dalam agama
Hindu sudah diterapkan sejak zaman dahalu. Dibuktikan dengan adanya kitab suci Veda yang disusun oleh para maha Rsi dengan turunnya wahyu dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa atau Tuhan
yang maha esa. Sebenarnya itu merupakan teknologi. Jika dilihat dari segi
etimologi kata, teknologi berasal dari dua kata yaitu “techne” dan “logos” dalam
bahasa yunani yang artinya “techne”
adalah cara, sedangkan “logos” adalah
ilmu. Jadi teknologi adalah ilmu tentang cara. Penerimaan wahyu oleh para maha Rsi itu merupakan cara atau teknologi
yang dilakukan untuk menyusun kitab suci Veda.
Berbicara tentang teknologi pendidikan Hindu, di India sejak zaman dulu para Rsi (guru) mengajarkan sisya (siswa) nya dengan sistem Param-Para. Sitem Param-Para ini adalah teknologi pendidikan dalam agama Hindu. Param-Para ini berasal dari bahasa
Sansekerta pentransferan ilmu pengetahuan dari guru ke murid. Mandir (2015:2)
mengatakan bahwa Parampara menunjukkan transmisi dari guru ke siswa ke suatu
garis yaitu tentang garis keturunan. Parampara melibatkan hubungan yang
dilakukan dari waktu ke waktu di mana guru mengamati siswa dan mengajar
individu. Siswa belajar tentang diri mereka melalui latihan secara disiplin. Selanjutnya
Heinrigh (1997:18) mengatakan bahwa Di sektor sosialisasi ke dalam tradisi
agama, masing-masing orang yang beragama Hindu di India masih melakukan tradisi
Param-Para ini hingga sekarang.
Teknologi yang seperti
inilah digunakan oleh para Rsi (guru)
untuk mengajar sisya (murid) nya di
India yang sangat mengedepankan kedisiplinan. Teknologi ini merupakan suatu
teknologi pendidikan menurut agama Hindu. Sudah sangat jelas sekali bawasannya
jika pada era seperti sekarang ini terutama di Indonesia khususnya pendidikan
agama Hindu, apabila mampu menerapkan sistem Param-Para maka akan ada output dari siswa yang berdisiplin,
berkarakter, dan berguna bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, bahkan nusa
dan bangsa. Dalam kitab Manava
Dharmasastra. II. 237. Dijelaskan :
Trisvetesviti
krtyam hi
Purusasya
samapyate
Esa
dharmah parah saksad
Upadharmo
nya ucyate
Artinya :
“Dengan
menghormati ketiganya yaitu : ayah, ibu, dan guru maka segala yang akan
dikerjakan oleh seorang anak atau siswa akan berhasil dengan baik. Oleh
sebabitu menghormati ketiga orang itu merupakan kewajiban teringgi bagi seorang
anak dan seorang siswa, sedangkan perbuatan-perbuatan yang lainnya adalah di
bawah kualitas kewajiban ini”.
Penjelasan dari kitab Manava
Dharmasastra .II.237 di atas sangat menegaskan sekali kepada para siswa
agar senantiasa menghormati ayah, ibu, dan juga guru karena merekalah yang
telah mengajarkan bagaimana cara agar bisa sukses menghadapi tantang dan hiruk
pikuk dunia ini. Restu dari ayah, ibu, dan guru sangat berpengaru sekali
terhadap apa yang siswa akan lakukan karena selain Tuhan Yang Maha Esa sebagai
sang pencipta, ayah, ibu, dan juga guru merupakan Tuhan yang selalu dekat
dengan siswa. Begitu pula halnya dengan ajaran Param-Para yang senantiasa mengedepankan sikap etika dan budi
pekerti luhur dalam belajar sudah tersurat juga di dalam kitab Manava Dharmasastra II.237.
2.3 Teknologi Pendidikan Era Modern
Era modern merupakan
zaman dimana teknologi, informasi, dan komunikasi berkembang sangat pesat. Hal
ini dapat terlihat dari perkembang IPTEK yang mengglobal dengan adanya internet
ataupun smart phone android yang
mudah dibawa kemana-mana dan jangkauannya luas. Tidak hanya orang dewasa, namun
anak-anak umur 4-5 tahun sudah bisa menggunakan alat tersebut. Informasi yang
mudah didapat melalui internet sangat berpengaruh sekali bagi kehidupan
manusia, baik itu dari segi positif dan negatif. Membahas tentang masalah
pendidikan, tentu hal tersebut menjadi sangat mudah untuk pengembangan
teknologi dalam pendidikan agar mempermudah guru saat proses pembelajaran
dikelas.
Teknologi berkaitan
erat dengan media dalam proses pembelajaran. Ada banyak sekali media-media
canggih dewasa ini sebagai teknologi pendidikan untuk dijadikan suatu media
pembelajaran guru di kelas.Salah satunya adalah media LCD Proyektor sebagai
media pembelajaran agama Hindu. Pada tahun-tahun sebelumnya mungkin guru agak
kesusahan jika mengajar di kelas karena terbatasnya media yang ada. Mungkin
saja guru membawa sendiri peralatan seperti gambar, foto, radio dan
lain-lainnya untuk dijadikan media pembelajaran di kelas. Namun itu sangat
merepotkan guru dan tidak efisien dalam mengajar. Namun sekarang hampir
disetiap sekolah memilik LCD Proyektor masing-masing sehingga dapat memudahkan
guru dalam mengajar di kelas. Sadiman (1993:224) mengatakan bahwa media LCD
Proyektor sangat bermanfaat sekali dalam melaksanakan proses pembelajaran
karena tidak hanya ada gambar, namun juga ada suara.
Media LCD Proyektor ini
sangat tepat sekali digunakan dalam pembelajaran agama Hindu. Jika dulu guru
menjelaskan konsep ketuhanan dengan media gambar saja, siswa akan menjadi
ambigu dalam penghayatannya. Begitu juga jika hanya menggunakan radio sebagai
media audionya. Namun LCD Proyektor ini dapat menyatukan antara media gambar
dan media audio sebagai media yang tepat untuk pembelajaran agama Hindu
khususnya. Ini merupakan salah satu media yang bagus dalam pembelajaran agama
Hindu khususnya karena mampu membuat siswa sebagai peserta didik tidak jenuh
dalam proses pembelajaran. Tidak hanya menarik minat siswa untuk belajar,
adanya gambar-gambar dan suara menjadikan suasana kelas menjadi lebih berkesan.
Pembelajaran agama Hindu merupakan pembelajaran yang berkaitan dengan spiritual sains dimana posisi guru tidak
hanya menjelaskan ilmu pengetahuan agama yang berkaitan dengan norma, etika,
namun juga menjelaskan tentang konsep ketuhanan. Jadi media LCD Proyektor ini
sangat tepat digunakan karena dapat mengajak siswa untuk berimajinasi mengenai
wujud Tuhan dalam agama Hindu yang transendent
dan immanent.
III.
KESIMPULAN
Teknologi tidak hanya bertitik tumpu pada alat-alat yang canggih. Jika
dilihat dari arti katanya, teknologi adalah suatu ilmu tentang cara. Jadi
apapun yang dilakukan manusia dengan menggunakan caranya tersendiri itu sudah
disebut dengan teknologi. Menurut ajaran agama Hindu, teknologi pendidikan yang
sudah diterapkan sejak zaman dulu bahkan hingga sekarang menggunakan sistem Param-Para. Sistem Param-Para ialah pentransferan ilmu pengetahuan dan juga
spiritualitas dari Rsi (guru) kepada
para sisya (murid) dengan mengajarkan
etika, displin, sopan santun sehingga apa yang telah diajarkan guru tidak hanya
fokus kepada ilmu pengetahuan saja, namun akan lahir siswa yang pintar, diplin,
beretika, dan memiliki pengetahuan spiritual. Itulah teknologi pendidikan
menurut agama Hindu yang disebut dengan sistem Param-Para.
Jika perkembangan teknologi yang semakin cepat seperti saat ini, guru
juga mampu menggunakan media yang dapat mengajak para siswa untuk bisa belajar
secara interaktif. Namun di dalam memilih media, guru harus mengetahui media
apa saja yang relevan untuk dijadikan bahan dalam proses pembelajaran agar
nantinya mampu ditangkap oleh siswa sebagai peserta didik. Di dalam pemilihan
media tersebut, guru harus mampu menyelipkan ajaran-ajaran agama, budi pekerti,
kedisplinan, dan sopan santu terhadp siswanya yang dapat diaplikasikan ke dalam
media itu sendiri agar nantinya tercipta output
siswa yang tidak hanya pintar dalam ilmu pengetahuan, namun juga bijaksana, dan
mampu menanamkan nilai kejujuran.
DAFTAR PUSTAKA
Arief S.
Sadiman, dkk. (1993). Media Pendidikan Pengertian, Pengembangan, dan
Pemanfaatan. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada.
Dimyati dan Mudjiono. (2006). Belajar
dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Donder, I. K. (2006). Sisya Sista Pedoman Menjadi Siswa Mulia.
Surabaya: Paramita.
Donder, I. K. (2008). Acarya
Sista Guru dan Dosen yang Bijaksana Perspektif Hindu. Surabaya: Paramita.
Heiniuch Von Stietencron. (1997). Hindu
Religious Traditions and the Concept of Religion. Amsterdam: Royal
Netherlands Academy Of Arts And Sciences.
Naim, Ngainun dan Achmad Sauqi. (2008).
Pendidikan Multikultural Konsep Dan
Aplikasi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media
Mandir, Y. (2015). On Parampara Line Age. An
Iyengar Yoga Institute, 2.
Pudja, I. G., dan Tjok Rai
Sudharta. (1973). Manava Dharmasastra.
Jakarta: Departemen Agama R.I.
Riyanto, Yatim. (2009). Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Kencana
Prenada Media Group.
Sudjana, Nana. (1989). Dasar Dasar Proses Belajar Mengajar.
Bandung: CV Sinar Baru.
Winkel,
W.S. (1996). Psikologi Pengajaran.
Jakarta: Garsindo.

Komentar
Posting Komentar