Tugas Mata Kuliah Studi Agama Hindu

TUGAS STUDI AGAMA HINDU

Nama : I Made Dwi Susila Adnyana
N.I.M : 17.1.2.5.2.0997
Jurusan : Pendidikan Agama Hindu
Kelas : A
No. Tlfn : 087999833073
Email : Ringofdevilbali@gmail.com

Soal !

1. Dalam konteks Hindu apa tugas utama seorang guru ?
2. Sebenarnya siapa yang disebut sebagai rohaniawan Hindu ?
3. Mengapa pengetahuan dan filsafat itu berbeda dengan tattwa ?
4. Mengapa badan ini sebagai sarana untuk mencapai Tuhan ?
5. Apa saja ruang lingkup teologi Hindu ?

Jawaban !

1. Tugas seorang guru pada umumnya adalah mengajar dan mendidik siswanya sebagai peserta didik. Jika dalam konteks agama Hindu, guru diibaratkan sebagai perwujudan Tuhan itu sendiri. kalau ditinjau sesuai dengan terminologi guru, guru berasal dari dua kata yaitu “Gu” Gunatitha yang artinya tidak terikat dan terbelenggu oleh materi dan “Ru” Rupavarjitha yang artinya mampu menyeberangkan orang lain dari lautan kesengsaraan (Donder, 2008:11). Dari pengertian tersebut jelas sekali bahwa seorang guru haruslah tidak terikat dan terbelenggu oleh materi dan mampu menyeberangkan orang lain dari lautan kesengsaraan sehingga yang disebut guru adalah sebagai perwujudan daripada Tuhan itu sendiri yang mempunyai tugas selain mengajar dan mendidik yaitu mampu menyeberangkan orang lain dari lautan kesengsaraan dan juga mampu mentranspormasikan ajaran-ajaran suci (dharma) kepada anak didiknya sehingga anak didiknya mampu mengamalkan dan menerapkan ajaran-ajaran agama yang luhur di dalam diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan juga bangsa. Itulah yang menjadi tugas utama dari seorang guru dalam konteks Hindu.

2. Rohaniawan Hindu tiada lain dan tiada bukan ialah ida pandita dan pinandita karena beliau adalah orang suci yang telah disucikan. Pandita dan pinandita disebut pula dengan sulinggih dimana kata sulinggih ini terdiri dari dua kata yaitu “Su” yang artinya baik, dan “Linggih” yang artinya tempat dimana sulinggih ini diartikan sebagai orang yang menduduki tempat yang baik, orang yang disucikan, pemuka ritual, dan juga mencerahkan umatnya. Itulah yang disebut rohaniawan Hindu.

3. Pengetahuan dan filsafat jelas berbeda denga Tattwa walaupun hampir memiliki pemaknaan yang sama. Tattwa memiliki kata dasar “Tat” yang artinya “itu” dimana “itu” yang dimaksud disini adalah Sang pencipta atau Tuhan itu sendiri. Pengetahuan dijadikan sebagai dasar manusia untuk menjalani kehidupan di dunia ini agar terlepas dari suatu kebodohan (awidya) sedangkan filsafat merupakan dasar daripada pengetahuan itu untuk mencari suatu kebenaran yang mutlak. Tetapi tattwa dalam ajaran agama Hindu, merupan dasar yang menjadi pengetahuan spiritual untuk mencari suatu kebenaran hakiki kehidupan manusia dan juga sebagai suatu pengetahuan tentang hakekat Tuhan. Jelas sekali perbedaan dari ke tiga aspek ini jika disimpulkan maka pengetahuan adalah dasar manusia agar terhindar dari kebodohan (awidya), filsafat adalah dasar dari pengetahuan itu sendiri, sedangkan tattwa adalah pengetahuan yang dijadikan dasar untuk mencari hakekat Tuhan dan juga kebenaran yang hakiki dalam ajaran agama Hindu.

4. Agama Hindu memiliki tiga pengertian tentang badan yang disebut dengan tri sarira dimana bagiannya adalah stula sarira (badan kasar), suksma sarira (badan halus), dan antah karana sarira yang artinya badan penyebab yang disebut dengan atma dalam agama Hindu (Tim Penyusun, 2004:5). Badan digunakan sebagai sarana untuk mencapai Tuhan karena didalam badan yang terlapis dari tiga unsur (tri sarira) memiliki atma dimana atma merpakan percikan terkecil dari Ida Sang Hyang Widi atau Tuhan. Jelas sekali bawasannya jika badan merupakan sarana untuk mencapai tuhan karena badan itulah yang menjadi wujud sebagai perantara untuk mendekatkan diri kepada Tuhan yang disebabkan dengan adanya ketiga unsur badan tersebut yang disebut dengan tri sarira.

5. Ruang lingkup daripada teologi Hindu bisa dijelaskan melalui dua pengertian yaitu yang pertama adalah Nirguna Brahma yang artinya Tuhan yang tak terbatasi oleh ruang dan waktu, tak terwujud, dan tak terpikan, kedua adalah Saguna Brahma yang artinya personifikasi dari Tuhan yang diwujudkan. Agama Hindu mengetahui bahwa sifat-sifat Tuhan adalah tidak bisa dipikirkan atau tak berwujud (acintya) karena kemaha kuasaan dari Tuhan itu sendiri yang disebut dengan Nirguna Brama. Dalam kitab Bhagavadgita X-2 dijelaskan tentang wilayah Tuhan Nirguna Brahma. Yaitu:

na me viduh sura-ganah prabhavam na maharsayah,
aham adir hi devanam maharsinam ca sarvasah
(Bhagvadgita X-2)
artinya :
Baik para dewata maupun maha rsi, tidak mengenal asal-mula-Ku (Tuhan), sebab dalam segala hal Aku (Tuhan) adalah sumber para dewa dan maha rsi.

Sesuai dalam teks Bhagavadgita X-2 di atas, dinyatakan bahwa Tuhan dalam bentuk Nirguna Brahma (tak terwujud) tidak ada yang tau asal mula Tuhan dalam segala hal. Namun, agama Hindu mewujudkad Tuhan dalam berbagai macam personifikasi sebagai bentuk simbol perantara untuk mendekatkan diri dan memusatkan pikiran kepada tuhan dalam Saguna Brahma. Seperti itulah agama Hindu meyakini Tuhan yang dijabarkan dalam dua pengertian yaitu Nirguna Brahma (tak terwujud) dan Saguna Brahma (yang diwujudkan) sebagai salah satu ruang lingkup teologi Hindu.

REFRENSI

1. I Ketut Donder. (2008). Acarya Sista : Guru & Dosen yang Bijaksana Perspektif Hindu. Surabaya: Paramita.
2. Tim Penyusun. (2004). Buku Pelajaran Agama Hindu Untuk Kelas 4 SD (Semester 1 & 2). Surabaya: Paramita.
3. Pudja, G. (2010). Bhagavad Gita (Pancama Veda). Surabaya: Paramita.



SEMOGA BERMANFAAT
***DSA***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Cerita Rāmāyana

Sekilas Cerita Mahābhārata

SUGIHAN BALI: PENYUCIAN MIKROKOSMOS