MERAH PUTIH SETENGAH TIANG (Essay Realistis Tentang Kemerdekaan Indonesia)
MERAH
PUTIH SETENGAH TIANG
(Essay
Realistis Tentang Kemerdekaan Indonesia)
Pagi itu cuaca mendung dengan gerimis kecil tanpa henti menghiasi
semesta Indonesia. Terlihat barisan merah putih yang sedang melaksanakan
upacara bendera dengan irama suara keras dan lantang meneriakkan kemerdekaan Indonesia. Disisi
lain, tampak tangisan histeris ditambah rintihan kelaparan menyelimuti lorong
pertokoan jalanan kota. Seorang bocah dengan nada pelan bertanya pada neneknya,
“Nek, kenapa kita tidak ikut merayakan hari kemerdekaan republik Indonesia
bersama dengan orang-orang disana itu?”. Si Nenek menjawab dengan senyuman
kecil di wajahnya “Kita disini sudah merayakan kemerdekaan Indonesia, hanya
saja tidak semeriah acara mereka. Agar nantinya kamu tahu bahwa kemerdekaan
tidak bisa hanya diukur dari meriahnya sebuah seremonial, namun arti kemerdekaan
yang sesungguhnya ialah bagaimana cara seorang pemimpin mensejahterakan
rakyatnya tanpa kepentingan pribadi ataupun kepentingan politik”. Begitulah
wejangan yang diberikan Si Nenek kepada cucunya yang sedang berbaring
dipangkuan neneknya, sembari Si Nenek menceritakan sebuah arti kemerdekaan yang
sesungguhnya.
Dahulu kala sebelum
Negara Indonesia merdeka, rakyat bersatupadu dengan tekad yang kuat untuk
melawan para penjajah yang menjarah negara kita. Dalam kobaran api perlawanan
dan semangat juang yang tinggi, para pemimpin bangsa terdahulu terus memotivasi
rakyatnya agar tidak mudah menyerah dan pantang mundur untuk melawan para
penjajah. Ketika semangat juang rakyatnya mulai tergoyah, sang pemimpin inilah
yang terus membangkitkan aura semangat juang pada rakyatnya agar terus membara.
Pada saat masa perjuangan, sang pemimpin dengan tekad yang kuat selalu berdiri
digarda depan untuk melindungi rakyat sehingga rakyat merasa aman dan tetap
memiliki semangat berjuang yang tinggi hingga akhirnya mampu memerdekakan
negara Indonesia ini. Saat masa-masa perjuangan itu, tidak ada sosok pemimpin
yang hanya mementingkan dirinya sendiri ataupun mementingkan satu pihak saja.
Sosok pemimpin terdahulu memiliki idialisme yang tinggi untuk dapat
mensejahterakan bangsa ini dengan tujuan Negara Indonesia merdeka secara
menyeluruh, sehingga rakyat Indonesia kala itu terus menyerukan sosok pemimpin
yang hebat dan rakyatpun merasa bangga dengan sosok pemimpin yang seperti itu.
Merdeka yang
sesungguhnya juga dapat diresapi dari cerita Ramayana dimana terkisahkan seorang
raja tampan, bijaksana, pintar, dan juga berwibawa bernama Raja Dasaratha. Beliau
adalah seorang raja yang memerintah di kerajaan Kosala. Raja Dasaratha merupakan
sosok pemimpin yang memahami pengetahuan suci, taat melaksanakan ibadah agama,
berbhakti kepada Tuhan, dan juga adil serta mengasihi seluruh rakyat yang
diperintahnya. Raja ini adalah seorang pemimpin yang patut dijadikan panutan
setiap orang. Karena kepintarannya, sikap mulia, bhakti kepada Tuhan, adil,
serta mengasihi semua ciptaan Tuhan, maka rakyat selalu memuliakan sosok
kepemimpinannya. Seperti itulah sikap seorang pemimpin yang seharusnya dilaksanakan.
Berpijak daripada sosok kepemimpinan pejuang bangsa Indonesia terdahulu dan
juga dari sosok pemimpin Raja Dasratha pada cerita Ramayana, itulah yang harus
dijadikan tolok ukur seorang pemimpin bangsa. Apabila seorang pemimpin sudah
memenuhi semua karakteristik kepemimpinan seperti itu, maka rakyatpun akan
selalu senang dan kehidupan ini akan senantiasa tentram, damai, dan sejahtera.
Itulah yang disebut dengan merdeka sesunguhnya, ujar Si Nenek dengan
mengelus-elus rambut cucunya penuh kasih sayang.
Fenomena
yang memprihatinkan masih dirasakan bangsa Indonesia saat ini dimana para
pemimpin hanya mementingkan diri sendiri dan kepentingan politik tanpa
menghiraukan keadaan rakyatnya. Seorang aktivis bernama Wiji Thukul menulis
lirik puisi tentang negara Indonesia,
" Kami
cinta negeri ini, tapi kami benci sistem yang ada. Hanya ada satu kata. Lawan
!!! "
Lirik puisi tersebut
menyatakan bahwa negara Indonesia adalah tanah air tercinta, akan tetapi sistem
penguasa yang tak kunjung henti untuk mencari kepentingan sendiri menyebabkan
merosotnya nilai-nilai kepemimpinan. Seakan pertumpahan darah para pejuang
bangsa terdahulu dinodai oleh kebiadaban moral penguasa saat ini dengan
sistem-sistem yang dibuat sedemikian rupa. Seakan-akan keadaan bangsa Indonesia
saat ini tergambar bahwa tiang bendera sudah mulai berkarat dan merah putih
telah lusuh. Rakyat tidak mendapatkan kesejahteraan, bahkan pendidikan di
wilayah pedesaan tidak terarah. Apabila sistem tersebut sudah mulai melenceng
dari perikemanusiaan, maka sistem tersebut harus dibenahi. Sistem itulah yang
harus dilawan supaya tercipta perubahan yang mencerminkan keadilan bangsa
Indonesia.
Banyak terjadi kasus
korupsi, kolusi, dan nepotisme yang tak kunjung berakhir. Nurani yang suci akan
memudar perlahan apabila angka rupiah mulai membutakan mata hati manusia. Orang
bijak mengatakan bahwa “Indonesia tidak kekurangan orang yang pintar, namun
kekurangan orang yang jujur”. Banyak cetakan Sarjana, Magister, Doktor, hingga
Profesor sekalipun yang intelektualnya
tinggi dan wawasannya luas, tetapi moral dan prilakunya masih buruk, bahkan
lebih buruk dari binatang. Hal seperti inilah yang harus dirubah sedikit demi
sedikit, berawal dari diri sendiri hingga menjadi pelopor banyak orang. Apabila
telah tercipta nuansa kemanusiaan yang dapat memanusiakan manusia sebagai
manusia, niscaya kehidupan ini akan harmonis, langit dan bumi akan tersenyum,
semestapun turut gembira.
Komentar
Posting Komentar