JATAKARMA SAMSKARA: RITUS KELAHIRAN ANAK MENURUT HINDU
JATAKARMA
SAMSKARA:
RITUS KELAHIRAN
ANAK MENURUT HINDU
Oleh
I Made Dwi
Susila Adnyana, M.Pd
Jatakarma Samskara adalah suatu ritual untuk
menyambut bayi yang baru lahir menurut ajaran agama Hindu. Tujuan dari ritual
ini adalah sebagai bentuk penyampaian rasa syukur dan perwujudan rasa
kebahagiaan atas keselamatan si bayi yang lahir ke dunia. Pada waktu si bayi berada
di dalam kandungan Ibu, bayi juga diberikan upacara yang disebut dengan istilah
Garbhasanskar atau Magedong gedongan yang bertujuan agar si
bayi dalam kandungan Ibu dapat sehat dan berkembang.
Secara etimologi
Jatakarma Samskara adalah kata
gabungan yang berasal dari bahasa Sansekerta, dengan akar ‘Jata’ dan ‘Karma’. Kata Jata secara harfiah berarti ‘lahir,
timbul, disebabkan, muncul’; sedangkan kata karma
berarti ‘tindakan, kinerja, tugas, kewajiban, pencapaian’. Kata Jatakarma kemudian digabung dengan kata Samskara yang memiliki makna ritus
peralihan. Dengan demikian Jatakarma
Samskara berarti ritual ketika seseorang dilahirkan atau ritus kelahiran
menurut ajaran agama Hindu (Prasanna, 2013:372; Williams, 2008; Kathy, 2005:46).
Menurut beberapa
pustaka Hindu dinyatakan bahwa setelah kelahiran, si bayi akan diterima oleh
saudaranya yang berjumlah empat yang disebut Catur Sanak. Ke empat Catur
Sanak itu adalah Yeh Nyom (Air
Ketuban), Lamas atau Banyeh (Lendir), Rah (Darah), dan Ari-ari
(Placenta). Ke empat Catur Sanak
inilah yang harus diupacarai oleh orang tua si bayi agar bayi tersebut selalu
mendapat kebahagiaan (Nala & Wiratmadja, 2012:259; Tim Penyusun, 1995:47). Dari
ke empat Catur Sanak itu, Ari-ari
lah yang mendapat perawatan yang paling istimewa.
Tata cara
perawatan Ari-ari yang pertama; Ari-ari itu dibersihkan, kemudian
dimasukkan ke dalam kelapa yang dibelah dua setelah dikupas. Bagian atas dari
kelapa itu ditulis aksara suci Hindu ‘OM
KARA’, sedangkan bagian bawahnya ditulisi aksara OM, ANG, AH. Setelah Ari-ari dimasukkan ke dalam kelapa, kemudian kelapa tersebut
dibungkus dengan kain putih dan di dalamnya dimasukkan bunga dan sirih, setelah itu ditanam di
halaman rumah. Bila bayi itu laki-laki, Ari-ari
nya ditanam disebelah kanan pintu masuk; apabila perempuan Ari-ari nya ditanam disebelah kiri pintu masuk. Setelah proses
penanaman, selanjutnya ditindih dengan batu hitam yang bergoreskan lambang Tapak Dara (lambang tanda tambah) menggunakan
pamor (kapur sirih) dan ditanami
pohon pandan berduri (Tim Penyusun, 1995:47).
Tujuannya agar Ari-ari itu tidak diganggu binatang dan
roh-roh jahat. Upakara yang perlu diberikan kepada Ari-ari adalah nasi empat
kepel, Ikannya; bawang, jahe, dan garam yang dicampur dengan arang dan
dilengkapi dengan canang. Pengayatan upakara
tersebut ditujukan kepada Catur Sanak
si bayi, sebab Catur Sanak itu akan tetap
memiliki keterkaitan dengan si bayi hingga dewasa bahkan sampai di akhirat (Tim
Penyusun, 1995:47). Inilah ritus kelahiran anak menurut pandangan Hinduisme
yang disebut dengan Jatakarma Samskara.
Salah satu riset
yang dilakukan oleh Dr. Prasanna N Rao bersama para koleganya yang dimuat dalam
“International Journal of Ayurveda and Allied Sciences” menyatakan bahwa ritual
Jatakarma Samskara juga dirancang
untuk membangkitkan organ indera pada anak yang baru lahir. Dalam risetnya yang
berjudul “The Childhood Samskaras (Rites of Passage) and Its Scientific
Appreciation” menyatakan bahwa ritual ini sangat penting dilakukan pada anak
setelah lahir.
Prasanna (2013:376)
menyatakan bahwa setelah kelahiran bayi, sang ayah menyambut bayi dengan
menyentuh bibir bayi dengan madu dan ghee
(mentega) seraya menyanyikan lagu-lagu pujian dalam Veda yang bertujuan untuk menyempurnakan pikiran dan kecerdasan
bayi. Lebih lanjut dinyatakan bahwa ritual ini pertama kali disebut dalam Sutra Aschalayana.
Ritual ini
memiliki makna yang mencakup sosial, budaya, dan medis. Dalam Brihadaranyaka
Upanishad 6.4.24 dijelaskan bahwa ketika seorang anak lahir, sang ayah
menyiapkan api dan menempatkan sang anak di pangkuannya. Setelah menuangkan persembahan
berupa Dahi (yoghurt) dan Ghee (mentega) ke dalam kendi logam, ia menuangkan
campuran itu ke dalam api sambil memohon doa kepada Dewa Agni.
Permohonan doa
yang diucapkan sang ayah kepada Dewa Agni adalah berupa harapan semoga sang anak
dapat tumbuh berkembang dengan sehat, senantiasa mendapatkan keberuntungan,
tidak pernah gagal dalam usahanya, dan selalu diberikan pikiran cemerlang. Selama
ritus ini, permohonan doa juga ditujukan kepada Dewi Saraswati; Dewi
pengetahuan dan kebijaksanaan dalam kepercayaan Hindu, agar sang anak diberikan
pengetahuan yang sempurna. Setelah ritual usai dilaksanakan, sang ayah
memberikan bayi itu kepada ibunya untuk disusui (Max Muller, 1884:223).
Beberapa
ketentuan tentang kelahiran anak (Jatakarma
Samskara) ini telah dimuat dalam pustaka suci Ayur Weda. Upacara ini harus
dilakukan agar bayi yang baru lahir dapat tumbuh berkembang dengan kecerdasan
intelek dan memiliki jiwa spiritual. Ritual ini mempersiapkan pikiran sang anak
untuk mengasimilasi pengetahuan Veda serta
membuat anak yang lahir menjadi berkarakter.
Ritus yang
dijelaskan dalam teks-teks Ayur Weda didasarkan pada berbagai tahap pertumbuhan
dan perkembangan anak, dan karenanya memberikan pedoman rasional terhadap
perawatan mulai dari kelahiran, masa kanak-kanak, hingga anak tumbuh dewasa.
DAFTAR PUSTAKA
Kathy, Jackson. (2005). Rituals and Patterns in Children's Lives. University of Wisconsin Press.
Nala, I Gusti Ngurah & Adia Wiratmadja. (2012). Murddha Agama Hindu. Denpasar: Upada
Sastra.
Max
Muller. (1884). Brihadaranyaka Upanishad. Oxford University Press.
Prasanna, N. Rao. (2013). The Childhood
Samskaras (Rites of Passage) and Its Scientific Appreciation. International Journal of Ayurveda and Allied Sciences Vol. 2, No. 12.
ISSN: 2278-4772.
Tim Penyusun. (1995). Bahan
Pendidikan dan Pengajaran Agama Hindu. Kantor Wilayah Departemen Agama
Provinsi Bali.
Williams, Monier. (2008). Sanskrit - English Dictionary. Germany: Cologne Digital Sanskrit Lexicon.
Komentar
Posting Komentar