MAGEDONG GEDONGAN: PROSES PENDIDIKAN MENTAL BAYI DALAM KANDUNGAN

MAGEDONG GEDONGAN: PROSES PENDIDIKAN MENTAL BAYI DALAM KANDUNGAN

 

Oleh

I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd

 

Magedong gedongan merupakan suatu upacara yang dilakukan pada saat kehamilan berusia enam bulan atau lebih dalam ajaran agama Hindu di Bali. Upacara ini dilakukan dengan tujuan supaya bayi dalam kandungan Ibu dapat sehat dan berkembang. Dalam ilmu kedokteran, dinyatakan bahwa pada saat kandungan berusia enam bulan (minggu ke 24) janin makin terlihat berisi dengan berat yang diperkirakan mencapai 600 gram dan panjang sekitar 21 cm (Anisa, 2009).

Rahim berada kurang lebih sekitar 5 cm di atas pusar atau sekitar 24 cm di atas simfisis pubis (tulang kemaluan). Kelopak mata bayi semakin sempurna dilengkapi dengan bulu mata. Pendengarannya berfungsi penuh dan janin mulai bereaksi dengan menggerakkan tubuhnya secara lembut jika mendengar irama musik yang disukainya. Begitu juga ia akan menunjukkan respon saat mendengar suara-suara bising atau teriakan yang tak disukainya (Anisa, 2009).

Berat bayi pada saat ini mencapai sekitar 700 gram dengan panjang dari puncak kepala sampai bokong kira-kira 22 cm. Sementara jarak dari puncak rahim ke simfisis pubis sekitar 25 cm. Bila ada indikasi medis, umumnya akan dilakukan USG berseri seminggu dua kali untuk melihat apakah perkembangan bayi terganggu atau tidak. Yang termasuk indikasi medis di antaranya hipertensi ataupun preeklampsia yang membuat pembuluh darah menguncup, sehingga suplai nutrisi jadi terhambat. Akibatnya, terjadi IUGR (Intra Uterin Growth Retardation atau perkembangan janin terhambat). [1]

Berdasarkan analisa tersebut, tujuan upacara magedong gedongan adalah untuk memohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa agar bayi yang ada di dalam kandungan Ibu dapat lahir normal dan tidak lahir prematur. Pada saat Ibu mengandung, diharapkan agar si Ibu dapat melakukan tapa bratha, sebab pada saat bayi berada dalam kandungan merupakan hal yang paling rentan dengan godaan lingungan. Dalam mitologi dijelaskan tentang kehadiran Dewa Ganesha; anak Dewa Siwa yang berkepala gajah.

Dewa Ganesha adalah salah satu contoh tentang pengaruh prilaku Ibu pada waktu mengandung. Dewa ini berkepala gajah akibat sewaktu dalam kandungan Ibunya Dewi Uma, istri dari Dewa Siwa, sangat terkejut ketika melihat seekor gajah yang sangat besar lewat dihadapannya yang ditunggangi oleh Dewa Indra. Kesan akan rupa gajah ini sangat mempengaruhi pikiran Dewi Uma yang sedang mengandung itu, akibatnya janin di dalam kandungannya juga ikut terpengaruh. Ketika janin itu lahir, anak itu berkepala gajah. Ini merupakan sebuah simbolisme tentang besarnya pengaruh lingkungan terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin (Nala & Wiratmaja, 2012:258).  

Dibutuhkan pengorbanan dan keikhlasan dari Ibu dan Bapak untuk selalu berbuat sesuai dengan dharma, membina lingkungan yang mendukung ketenangan dan kedamaian hati si Ibu. Inilah yajna yang harus dilakukan selama kehamilan. Dalam Kitab Ayur Weda, upacara magedong gedongan disebut dengan istilah Garbhasanskar. Tian (2017) menjelaskan bahwa kata Garbhasanskar berasal dari akar kata ‘Garbh’ yang dalam bahasa Sansekerta mengacu pada janin di dalam rahim.

Lebih lanjut dijelaskan oleh Prof. Dr. Dhiraj Jayantilal Trivedi seorang Kepala Departemen Biokimia di Zydus Medical College and Hospital, Dahod, Gujarat, India bahwa Garbhasanskar merupakan pendidikan pikiran. Prof. Dhiraj dalam studinya menyatakan bahwa Garbhasanskar merupakan proses mendidik pikiran bayi yang belum lahir. Secara tradisional diyakini bahwa perkembangan mental dan perilaku anak dimulai di dalam rahim karena hal itu dapat dipengaruhi oleh keadaan emosi Ibu saat ia mengandung. Praktek ini telah menjadi bagian dari tradisi Hindu sejak dahulu kala dan dibuktikan oleh kisah-kisah tentang bagaimana Garbhasanskar memiliki efek yang sangat positif bagi kandungan. [2]

Dhiraj (2015) selanjutnya menjelaskan bahwa Garbhasanskar adalah proses untuk mencapai fisik, mental, spiritual, emosional, pengembangan sosial dan kesempurnaan untuk ibu dan bayi. Garbhasanskar adalah pedoman perawatan kehamilan lengkap untuk mendapatkan anak yang suputra. Saat ini ilmu pengetahuan telah membuktikan bahwa bayi yang belum lahir tidak hanya dapat mendengarkan dan merasakan, tetapi juga dapat merespons dengan caranya sendiri.

Kesimpulan yang dijelaskan oleh Dhiraj dinyatakan bahwa 60% perkembangan otak terjadi pada periode intrauterin. Garbhasanskar adalah cara khusus yang diambil untuk merangsang indera bayi dengan lembut untuk kematangan fisik & kecerdasannya yang maksimal.

Proses Magedong gedongan dalam tradisi Hindu di Bali dapat menjelaskan secara ilmiah bahwa aktivitas ibu selama kehamilan dalam bentuk doa yang dimohon kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa akan menyebabkan pikiran rasional yang baik, emosi positif, serta efek positif pada fisik dan kesehatan mental bayi. Karenanya upacara Magedong gedongan dilakukan sebagai suatu cara ilmiah untuk membentuk kesehatan mental bayi yang belum lahir yang dilakukan dengan ritual khusus menurut tradisi Hindu di Bali.

DAFTAR PUSTAKA

Anisa, Gusti. W. (2009). Perkembangan Janin dalam Kandungan. Tersedia online https:/bidpend.blogspot.com/2009/12/perkembanganjanindalamkandungan.html.

Dhiraj Jayantital, T. (2015). Garbhasanskar: Knowledge, Attitude and Practice among Antenatal Mothers of Dharwad, Karnataka. International Journal of Advances in Nursing, Vol. 3 No. 4. ISSN 2454-2652.

Nala, I Gusti Ngurah & Adia Wiratmadja. (2012). Murddha Agama Hindu. Denpasar: Upada Sastra.

Tian, C. (2017). Garbh Sanskar Practices. Tersedia online di https://parenting. firstcry.com/ articles /guide-garbh-sanskar-practices/.

 

 

 



[1] Baca Perkembangan Janin dalam Kandungan. Tersedia online di

https://bidpend.blogspot.com/2009/12/perkembangan-janin-dalam-kandungan.html.

[2] Artikel ini berjudul “Garbhasanskar: Knowledge, Attitude and Practice among Antenatal Mothers of Dharwad, Karnataka”. International Journal of Advances in Nursing, Vol. 3 No. 4. ISSN 2454-2652. Tersedia online di https://www.researchgate.net/publication/285618390.

 


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ringkasan Cerita Rāmāyana

Sekilas Cerita Mahābhārata

SUGIHAN BALI: PENYUCIAN MIKROKOSMOS