Ringkasan Cerita Rāmāyana

Ringkasan Cerita Rāmāyana
oleh:
I Made Dwi Susila Adnyana, M.Pd


Cerita Rāmāyana merupakan suatu pendidikan rohani yang mengandung falsafah yang sangat dalam artinya. Cerita Rāmāyana sesuai dengan cerita kehidupan manusia dalam mencari kebenaran dan hidup yang sempurna. Cerita Rāmāyana menyinggung pula kebaikan dan kesetiaan Dewi Sita kepada suaminya yaitu Sri Rama, karena Sri Rama adalah titisan Dewa Wisnu. Dari segi sosial, masyarakat membuktikan bahwa Rama dan Dewi Sita merupakan tokoh-tokoh sosial dan dermawan yang mencintai sesamanya. Kitab Rāmāyana merupakan hasil sastra India yang indah dan berani.

Kemunculan versi-versi yang berbeda dapat digunakan untuk melihat akulturasi budaya antara India dan daerah-daerah lain yang mengembangkan cerita Rāmāyana tersebut. Saat penyebaran cerita ini, terdapat kontak sejarah kebudayaan yang cukup erat antara agama Hindu di Asia dan di India. Persebaran cerita Rāmāyana tentu tidak dapat dipisahkan dengan agama Hindu dan Buddha dari India ke berbagai daerah di Asia. Cerita Rāmāyana sendiri merupakan bagian dari khazanah kesusastraan Hindu. Walaupun demikian, pendeta-pendeta Buddha juga menggunakan cerita Rāmāyana untuk menyebarkan agama Buddha ke berbagai daerah di Asia. Tentu saja, cerita Rāmāyana yang disebarkan oleh penganut Hindu dan Buddha memiliki perbedaan dan cerita tersebut disesuaikan untuk kepentingan penyebaran agama itu sendiri.

Tidak hanya pengaruh agama, saat penyebaran cerita ini terdapat pula kontak sejarah kebudayaan yang cukup erat antara agama Hindu di Asia dan di India. Kontak ini meliputi seluruh elemen yang ada dalam kehidupan, khususnya nilai-nilai yang terkandung di dalam cerita Rāmāyana. Rāmāyana telah memainkan peran penting dalam proses perpindahan dan penyebaran elemen Hindu dari India ke negara-negara di Asia. Nilai-nilai Hindu selalu terlihat dimanapun kisah Rāmāyana diadopsi oleh negara-negara di Asia. Namun, nilai-nilai Hindu ini diserap dengan memperhatikan budaya asli negara itu. Jika nilai itu tidak bertentangan akan diambil, sedangkan jika nilai itu bertentangan maka akan dibuang.

Kata Rāmāyana berasal dari bahasa Sanskeṛta yaitu dari kata Rāma dan Ayaṇa yang berarti “Perjalanan Rāmā”. Rāmāyana adalah sebuah cerita dari India yang di tulis oleh Rsi Walmiki. Rāmāyana terdapat pula dalam khazanah sastra Jawa kuna dalam bentuk kakawin Rāmāyana. Dalam bahasa Melayu terdapat pula “Hikayat Seri Rāmā” yang isinya berbeda dengan kakawin Rāmāyana dalam bahasa Jawa kuna. Cerita Rāmāyana dibagi menjadi tujuh kanda yaitu; Bālakānda, Ayodhyākāṇḍa, Āraṇyakāṇḍa, Kiṣkindhakāṇḍa, Sundarakāṇḍa, Yuddhakāṇḍa, dan Uttarakāṇḍa.

Bālakānda adalah kanda pertama dalam cerita Rāmāyana. Bālakānda menceritakan Sang Daśaratha yang menjadi Raja di Ayodhyā. Sang raja ini mempunyai tiga istri yaitu Dewi Kauśalyā, Dewi Kaikeyī, dan Dewi Sumitrā. Dewi Kauśalyā berputrakan Sang Rāmā, Dewi Kaikeyī berputrakan Sang Bharata, sedangkan Dewi Sumitrā berputrakan Sang Lakṣamaṇa dan Sang Satrugṇa. Pada suatu hari, Bhagawan Wisvamitra meminta tolong kepada Prabu Daśaratha untuk menjaga pertapaannya. Sang Rāmā dan Lakṣamaṇa pergi membantu mengusir para raksasa yang mengganggu pertapaan ini. Lalu atas petunjuk para Brahmana maka Sang Rāmā pergi mengikuti sayembara di Wideha dan mendapatkan Dewi Sītā sebagai istrinya. Ketika pulang ke Ayodhyā mereka dihadang oleh Rāmāparasu, tetapi mereka bisa mengalahkannya.

Daśaratha adalah tokoh dari wiracarita Rāmāyana, seorang raja, putra raja, keturunan Iksvaku dan berada dalam golongan Raghuwangsa atau Dinasti Surya. Ia adalah ayah Śrī Rāmā dan memerintah di Kerajaan Kosala dengan pusat pemerintahannya di Ayodhyā. Daśaratha sebagai seorang raja besar lagi pemurah. Angkatan perangnya ditakuti berbagai negara dan tak pernah kalah dalam pertempuran. Pada saat Daśaratha masih muda dan belum menikah, ia suka berburu dan memiliki kemampuan untuk memanah sesuatu dengan tepat hanya dengan mendengarkan suaranya saja. Di suatu malam, Daśaratha berburu ke tengah hutan. Di tepi sungai Sarayu, ia mendengar suara gajah yang sedang minum. Tanpa melihat sasaran ia segera melepaskan anak panahnya. Namun ia terkejut karena tiba-tiba makhluk tersebut mengaduh dengan suara manusia. Saat ia mendekati sasarannya, ia melihat seorang pertapa muda tergeletak tak berdaya.

Pemuda tersebut bernama Srāvaṇa. Ia mencaci maki Daśaratha yang telah tega membunuhnya, dan berkata bahwa kedua orang tuanya yang buta sedang menunggu dirinya membawakan air. Sebelum meninggal, Srāvaṇa menyuruh agar Daśaratha membawakan air kehadapan kedua orang tua si pemuda yang buta dan tua renta. Daśaratha menjalankan permohonan terakhir tersebut dan menjelaskan kejadian yang terjadi kepada kedua orangtua si pemuda. Daśaratha juga meminta maaf di hadapan mereka. Setelah mendengar penjelasan Daśaratha, kedua orang tua tersebut menyuruh Daśaratha agar ia mengantar mereka ke tepi sungai untuk meraba jasad putranya yang tercinta untuk terakhir kalinya. Kemudian, mereka mengadakan upacara pembakaran yang layak bagi putranya. Karena rasa cintanya, mereka hendak meleburkan diri bersamasama ke dalam api pembakaran. Sebelum melompat, ayah si pemuda menoleh kepada Daśaratha dan berkata bahwa kelak pada suatu saat, Daśaratha akan mati dalam kesedihan karena ditinggalkan oleh putranya yang paling dicintai dan paling diharapkan.

Daśaratha memiliki tiga permaisuri, yaitu Kauśalyā, Sumitrā, dan Kaikeyī. Lama setelah pernikahannya, Daśaratha belum juga dikaruniai anak. Akhirnya ia mengadakan Yadnya yang dipimpin Ṛsī Srengga. Dari upacara tersebut, Daśaratha memperoleh payasam berisi air suci untuk diminum oleh para permaisurinya. Kauśalyā dan Kaikeyī minum seteguk, sedangkan Sumitrā meminum dua kali sampai habis. Beberapa bulan kemudian, suara tangis bayi menyemarakkan istana. Yang pertama melahirkan putra adalah Kauśalyā, dan putranya diberi nama Rāmā. Yang kedua adalah Kaikeyī, melahirkan putra mungil yang diberi nama Bharata. Yang ketiga adalah Sumitrā, melahirkan putra kembar dan diberi nama Lakṣmana dan Satrugṇa.

Kauśalyā adalah istri pertama Daśaratha dari Kerajaan Kosala yang melahirkan Śrī Rāmā. Sumitrā adalah salah seorang istri Prabu Dasaratha dan merupakan ibu dari Lakṣamaṇa dan Satrugṇa. Kaikeyī adalah permaisuri Raja Daśaratha dalam wiracarita Rāmāyana. Ia merupakan wanita ketiga yang dinikahi Daśaratha setelah dua permaisurinya yang lain tidak mampu memiliki putra. Pada saat Daśaratha meminang dirinya, ayah Kaikeyī membuat perjanjian dengan Daśaratha bahwa putra yang dilahirkan oleh Kaikeyī harus menjadi raja. Daśaratha menyetujui perjanjian tersebut karena dua permaisurinya yang lain tidak mampu melahirkan putra. Namun setelah menikah dan hidup lama, Kaikeyī belum melahirkan putra. Setelah Daśaratha melakukan upacara besar, akhirnya Kaikeyī dan premaisurinya yang lain mendapatkan keturunan.

Kaikeyī melahirkan seorang putra bernama Bharata. Pada suatu ketika di sebuah pertempuran, roda kereta perang Daśaratha pecah. Dalam masa-masa genting tersebut, Kaikeyī yang berada di sana datang menyelamatkan Daśaratha serta memperbaiki kereta tersebut sampai bisa dipakai lagi. Karena terharu oleh pertolongan Kaikeyī, Daśaratha mempersilakan Kaikeyī untuk mengajukan tiga permohonan. Namun Kaikeyī menolak karena ia ingin menagih janji tersebut pada saat yang tepat. Sebagai istri yang paling muda, Kaikeyī merasa cemas apabila Daśaratha kurang mencintainya dibandingkan dua istrinya yang lain. Saat Rāmā hendak dinobatkan menjadi raja, pelayan Kaikeyī yang bernama Mantara datang dan menghasut Kaikeyī agar mengangkat Bharata menjadi Raja sekaligus menyingkirkan Rāmā ke hutan selama 14 tahun. Dengan mengangkat Bharata menjadi raja, Mantara berharap bahwa Kaikeyī akan menjadi ibu suri dan statusnya berada di atas permaisuri yang lain.

Kaikeyī menolak usul Mantara karena ia tahu bahwa Rāmā lebih pantas menjadi raja, dan setelah itu Bharata akan menggantikannya. Mendengar alasan Kaikeyī, Mantara berkata bahwa tidak ada alasan bagi Bharata untuk menjadi raja menggantikan Rāmā karena jika Rāmā menjadi raja sampai akhir hayatnya, maka tidak ada kesempatan bagi Bharata untuk menggantikannya karena tahta diserahkan kepada keturunan Rāmā. Setelah Mantara menghasut Kaikeyī dengan berbagai alasan, Kaikeyī mengambil tindakan. Ia menemui Raja Daśaratha dan meminta dua permohonan sesuai dengan kesempatan yang telah diberikan sebelumnya.

Pertama ia memohon Bharata untuk menjadi raja, dan yang kedua ia memohon agar Rāmā diasingkan ke hutan. Dengan berat hati, Raja Daśaratha memenuhi permohonan tersebut, namun tak lama kemudian ia wafat dalam keadaan sakit hati. Ayah Rāmā adalah Raja Daśaratha dari Ayodhyā, sedangkan ibunya adalah Kauśalyā. Dalam Rāmāyana diceritakan bahwa Raja Daśaratha yang merindukan putra mengadakan upacara bagi para Dewa, upacara yang disebut Putrakama Yadnya. Upacaranya diterima oleh para Dewa dan utusan mereka memberikan sebuah air suci agar di minum oleh setiap permaisurinya. Atas anugerah tersebut, ketiga permaisuri Raja Daśaratha melahirkan putra. Yang tertua bernama Rāmā, lahir dari Kauśalyā. Yang kedua adalah Bharata, lahir dari Kaikeyī, dan yang terakhir adalah Lakṣmaṇa dan Satrugṇa, lahir dari Sumitrā.

Keempat pangeran tersebut tumbuh menjadi putra yang gagah-gagah dan terampil memainkan senjata di bawah bimbingan Ṛsī Wasista. Pada suatu hari, Rsi Wisvamitra datang menghadap Raja Daśaratha. Daśaratha tahu benar watak Ṛsī tersebut dan berjanji akan mengabulkan permohonannya sebisa mungkin. Akhirnya Sang Ṛsī mengutarakan permohonannya, yaitu meminta bantuan Rāmā untuk mengusir para raksasa yang mengganggu ketenangan para Ṛsī di hutan. Mendengar permohonan tersebut, Raja Daśaratha sangat terkejut karena merasa tidak sanggup untuk mengabulkannya, namun ia juga takut terhadap kutukan Ṛsī Wisvamitra. Daśaratha merasa anaknya masih terlalu muda untuk menghadapi para raksasa, namun Ṛsī Wisvamitra menjamin keselamatan Rāmā. Setelah melalui perdebatan dan pergolakan dalam batin, Daśaratha mengabulkan permohonan Ṛsī Wisvamitra dan mengizinkan putranya untuk membantu para Ṛsī.

Ditengah hutan, Rāmā dan Lakṣmana memperoleh mantra sakti dari Ṛsī Wisvamitra, yaitu bala dan atibala. Setelah itu, mereka menempuh perjalanan menuju kediaman para Ṛsī di Sidhasrama. Sebelum tiba di Sidhasrama, Rāmā, Lakṣmana, dan Ṛsī Wisvamitra melewati hutan Dandaka. Di hutan tersebut, Rāmā mengalahkan rakshasi Tataka dan membunuhnya. Setelah melewati hutan Dandaka, Rāmā sampai di Sidhasrama bersama Lakṣmana dan Ṛsī Wisvamitra. Di sana, Rāmā dan Lakṣmana melindungi para Ṛsī dan berjanji akan mengalahkan raksasa yang ingin mengotori pelaksanaan Yadnya yang dilakukan oleh para Ṛsī. Saat raksasa Marica dan Subahu datang untuk mengotori sesajen dengan darah dan daging mentah, Rāmā dan Lakṣmana tidak tinggal diam.

Atas permohonan Rāmā, nyawa Marica diampuni oleh Lakṣmana, sedangkan untuk Subahu, Rāmā tidak memberi ampun. Dengan senjata Agni Astra atau Panah Api, Rāmā membakar tubuh Subahu sampai menjadi abu. Setelah Rāmā membunuh Subahu, pelaksanaan Yadnya berlangsung dengan lancar dan aman. Dalam bahasa Sansekerta, kata Sītā bermakna “kerut”. Kata “kerut” merupakan istilah puitis pada zaman India Kuno, yang menggambarkan aroma dari kesuburan. Nama Sītā dalam Rāmāyana kemungkinan berasal dari Dewi Sītā, yang pernah disebutkan dalam Ṛg. Weda sebagai Dewi Bumi yang memberkati ladang dengan hasil panen yang bermutu. Seperti tokoh terkenal dalam legenda Hindu lainnya, Sītā juga dikenal dengan banyak nama. Sebagai puteri Raja Janaka, ia dipanggil Janaki; sebagai putri Mithila, ia dipanggil Maithili; sebagai istri Rāma, ia dipanggil Rāmā. Karena berasal dari Kerajaan Wideha, ia pun juga dikenal dengan nama Waidehi. Suatu ketika Kerajaan Wideha dilanda kelaparan. Janaka sebagai raja melakukan upacara Yadnya di suatu area ladang antara lain dengan cara membajak tanahnya. Ternyata mata bajak Janaka membentur sebuah peti yang berisi bayi perempuan.

Bayi itu dipungutnya menjadi anak angkat dan dianggap sebagai titipan Pertiwi, Dewi Bumi dan Kesuburan. Sītā dibesarkan di istana Mithila, ibu kota Wideha oleh Janaka dan Sunayana, permaisurinya. Setelah usianya menginjak dewasa, Janaka pun mengadakan sebuah sayembara untuk menemukan pasangan yang tepat bagi putrinya itu. Sayembara tersebut adalah membentangkan busur pusaka maha berat anugerah Dewa Siwa, dan dimenangkan oleh Śrī Rāmā, seorang pangeran dari Kerajaan Kosala. Setelah menikah, Sītā pun tinggal bersama suaminya di Ayodhyā, ibu kota Kosala. Wisvamitra mendengar adanya sebuah sayembara di Mithila demi memperebutkan Dewi Sītā. Ia mengajak Rāmā dan Lakṣmana untuk mengikuti sayembara tersebut dan mereka pun menyanggupinya. Setibanya di sana, Rāmā melihat bahwa tidak ada orang yang mampu memenuhi persyaratan untuk menikahi Sītā, yaitu mengangkat serta membengkokkan busur Siwa. Namun saat Rāmā tampil ke muka, ia tidak hanya mampu mengangkat serta membengkokkan busur Siwa, namun juga mematahkannya menjadi tiga. Saat busur itu dipatahkan, suaranya besar dan menggelegar seperti guruh.

Melihat kemampuan istimewa tersebut, ayah Sītā yaitu Raja Janaka, memutuskan agar Rāmā menjadi menantunya. Sītā pun senang mendapatkan suami seperti Rāmā. Kemudian utusan dikirim ke Ayodhyā untuk memberitahu kabar baik tersebut. Raja Daśaratha girang mendengar putranya sudah mendapatkan istri di Mithila, kemudian ia segera berangkat ke sana. Setelah menyaksikan upacara pernikahan Rāmā dan Sītā, Wisvamitra mohon pamit untuk melanjutkan tapa di Gunung Himalaya, sementara Daśaratha pulang ke Ayodhyā diikuti oleh Ṛsī Wasistha serta pengiring-pengiringnya. Di tengah jalan, mereka berjumpa dengan Ṛsī Parasu Rāmā, yaitu brahmana sakti yang ditakuti para ksatria. Parasu Rāmā memegang sebuah busur dibahunya yang konon merupakan busur Wisnu. Ia sudah mendengar kabar bahwa Rāmā telah mematahkan busur Siwa. Dengan wajah yang sangar, ia menantang Rāmā untuk membengkokkan busur Wisnu.

Rāmā menerima tantangan tersebut dan membengkokkan busur Wisnu dengan mudah. Melihat busur itu dibengkokkan dengan mudah, seketika raut wajah Parasu Rāmā menjadi lemah lembut. Rāmā berkata, “Panah Waisnawa ini harus mendapatkan mangsa. Apakah panah ini harus menghancurkan kekuatan Tuan atau hasil tapa Tuan?”. Parasu Rāmā menjawab agar panah itu menghancurkan hasil tapanya, karena ia hendak merintis hasil tapanya dari awal kembali. Setelah itu, Parasu Rāmā mohon pamit dan pergi ke Gunung Mahendra.

Ayodhyākāṇḍa adalah kitab kedua epos Rāmāyana dan menceritakan sang Daśaratha yang akan menyerahkan kerajaan kepada sang Rāmā, tetapi dihalangi oleh Dewi Kaikeyī. Katanya beliau pernah menjanjikan warisan kerajaan kepada anaknya. Maka sang Rāmā disertai oleh Dewi Sītā dan Lakṣamaṇa pergi mengembara dan masuk ke dalam hutan selama 14 tahun. Setelah mereka pergi, maka Prabu Daśaratha meninggal karena sedihnya. Sementara Rāmā pergi, Bharata baru saja pulang dari rumah pamannya dan tiba di Ayodhyā. Ia mendapati bahwa ayahnya telah wafat serta Rāmā tidak ada di istana. Kaikeyī menjelaskan bahwa Bharata lah yang kini menjadi raja, sementara Rāmā mengasingkan diri ke hutan. Bharata menjadi sedih mendengarnya, kemudian menyusul Rāmā.

Harapan Kaikeyī untuk melihat putranya senang menjadi raja ternyata sia-sia. Di dalam hutan, Bharata mencari Rāmā dan memberi berita duka karena Prabu Daśaratha telah wafat. Ia membujuk Rāmā agar kembali ke Ayodhyā untuk menjadi raja. Rakyat juga mendesak demikian, namun Rāmā menolak karena ia terikat oleh perintah ayahnya. Untuk menunjukkan jalan yang benar, Rāmā menguraikan ajaranajaran agama kepada Bharata. Rāmā menyerahkan sandalnya (dalam bahasa Sanskeṛta: paduka). Akhirnya Bharata membawa sandal milik Rāmā dan meletakkannya di singgasana. Dengan lambang tersebut, ia memerintah Ayodhyā atas nama Rāmā.

Rāmā atau Rāmācandra adalah seorang raja legendaris yang konon hidup pada zaman Tretayuga, keturunan Dinasti Surya atau Suryawangsa. Ia berasal dari Kerajaan Kosala, Ibu Kota Ayodhyā. Menurut pandangan Hindu, ia merupakan awatara Dewa Wisnu yang ketujuh, yang turun ke bumi pada zaman Tretayuga. Sosok dan kisah kepahlawanannya yang terkenal dituturkan dalam sebuah sastra Hindu Kuno yang disebut Rāmāyana, dan tersebar dari Asia Selatan sampai Asia Tenggara. Terlahir sebagai putra sulung dari pasangan Raja Daśaratha dengan Kauśalyā, ia dipandang sebagai Maryada Purushottama, yang artinya “Manusia Sempurna”. Setelah dewasa, Rāmā memenangkan sayembara dan beristerikan Dewi Sītā, inkarnasi dari Dewi Lakṣmi.

Rāmā memiliki anak kembar, yaitu Kusa dan Lava. Dalam wiracarita Rāmāyana diceritakan bahwa sebelum Rāmā lahir, seorang raja raksasa bernama Rahwaṇa telah meneror Triloka (tiga dunia) sehingga membuat para Dewa merasa cemas. Atas hal tersebut, Dewi Bumi menghadap Dewa Brahma agar beliau bersedia menyelamatkan alam beserta isinya. Para Dewa juga mengeluh kepada Brahma, yang telah memberikan anugerah kepada Rahwaṇa sehingga raksasa tersebut menjadi takabur. Setelah para dewa bersidang, mereka memohon agar Wisnu bersedia menjelma kembali ke dunia untuk menegakkan dharma serta menyelamatkan orang-orang saleh. Dewa Wisnu menyatakan bahwa ia bersedia melakukannya. Ia berjanji akan turun ke dunia sebagai Rāmā, putra raja Daśaratha dari Ayodhyā. Dalam penjelmaannya ke dunia, Wisnu ditemani oleh Naga Sesa yang akan mengambil peran sebagai Lakṣmana, serta Lakṣmi yang akan mengambil peran sebagai Sītā.

Ibu Rahwaṇa bernama Kaikesi, seorang putri Raja Detya bernama Sumali. Sumali memperoleh anugerah dari Brahma sehingga ia mampu menaklukkan para raja dunia. Sumali berpesan kepada Kaikasi agar ia menikah dengan orang yang istimewa di dunia. Di antara para Ṛsī, Kaikasi memilih Wisrawa sebagai pasangannya. Wisrawa memperingati Kaikesi bahwa bercinta di waktu yang tak tepat akan membuat anak mereka menjadi jahat, namun Kaikesi menerimanya meskipun diperingatkan demikian. Akhirnya, Rahwaṇa lahir dengan kepribadian setengah Brahmana, setengah Raksasa. Saat lahir, Rahwaṇa diberi nama “Dasanana” atau “Dasagriwa”, dan konon ia memiliki sepuluh kepala.

Beberapa alasan menjelaskan bahwa sepuluh kepala tersebut adalah pantulan dari permata pada kalung yang diberikan ayahnya sewaktu lahir, dan ada juga yang menjelaskan bahwa sepuluh kepala tersebut adalah simbol bahwa Rahwaṇa memiliki kekuatan sepuluh tokoh tertentu. Saat masih muda, Rahwaṇa mengadakan tapa memuja Dewa Brahma selama bertahun-tahun. Karena berkenan dengan pemujaannya, Brahma muncul dan mempersilakan Rahwaṇa mengajukan permohonan. Mendapat kesempatan tersebut, Rahwaṇa memohon agar ia hidup abadi, namun permohonan tersebut ditolak oleh Brahma. Sebagai gantinya, Rahwaṇa memohon agar ia kebal terhadap segala serangan dan selalu unggul di antara para Dewa, makhluk surgawi, raksasa, detya, danawa, segala naga, dan makhluk buas. Karena menganggap remeh manusia, ia tidak memohon agar unggul terhadap mereka.

Mendengar permohonan tersebut, Brahma mengabulkannya, dan menambahkan kepandaian menggunakan senjata Dewa dan ilmu sihir. Setelah memperoleh anugerah Brahma, Rahwaṇa mencari kakeknya, Sumali, dan memintanya kuasa untuk memimpin tentaranya. Kemudian ia melancarkan serangannya menuju Alengka. Alengka merupakan kota yang permai, diciptakan oleh seorang arsitek para Dewa bernama Wiswakarma atau Kubera, Dewa kekayaan. Kubera juga merupakan putra Wiswara, dan bermurah hati untuk membagi segala miliknya kepada anak-anak Kaikasi. Namun Rahwaṇa menuntut agar seluruh Alengka menjadi miliknya, dan mengancam akan merebutnya dengan kekerasan.

Wiswara menasihati Kubera agar memberikannya, sebab sekarang Rahwaṇa tak tertandingi. Ketika Rahwaṇa merampas Alengka untuk memulai pemerintahannya, ia dipandang sebagai pemimpin yang sukses dan murah hati. Alengka berkembang di bawah pemerintahannya. Konon rumah yang paling miskin sekalipun memiliki kendaraan dari emas dan tidak ada kelaparan di kerajaan tersebut. Setelah keberhasilannya di Alengka, Rahwaṇa mendatangi Dewa Siwa dikediamannya di gunung Kailasha. Tanpa disadari, Rahwaṇa mencoba mencabut gunung tersebut dan memindahkannya sambil bermain-main. Siwa yang merasa kesal dengan kesombongan Rahwaṇa, menekan Kailasha dengan jari kakinya, sehingga Rahwaṇa tertindih pada waktu itu juga. Kemudian Gana datang untuk memberitahu Rahwaṇa, pada siapa ia harus bertobat. Lalu Rahwaṇa menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu pujian kepada Siwa, dan konon ia melakukannya selama bertahuntahun, sampai Siwa membebaskannya dari hukuman.

Terkesan dengan keberanian dan kesetiaannya, Siwa memberinya kekuatan tambahan, khususnya pemberian hadiah berupa Chandrahasa (pedang-bulan), pedang yang tak terkira kuatnya. Selanjutnya Rahwaṇa menjadi pemuja Siwa seumur hidup. Rahwaṇa terkenal dengan tarian pemujaannya kepada Siwa yang bernama “Shiva Tandava Stotra”. Semenjak peristiwa tersebut ia memperoleh nama ‘Rāvaṇa’, berarti “(Ia) Yang raungannya dahsyat”, diberikan kepadanya oleh Siwa – konon bumi sempat berguncang saat Rahwaṇa menangis kesakitan karena ditindih gunung. Dengan kekuatan yang diperolehnya, Rahwaṇa melakukan penyerangan untuk menaklukkan ras manusia, makhluk jahat (asurarakshasadetyadanawa), dan makhluk surgawi. Setelah menaklukkan Patala (dunia bawah tanah), ia mengangkat Ahirawan sebagai raja.

Rahwaṇa sendiri menguasai ras asura di tiga dunia. Karena tidak mampu mengalahkan Wangsa Niwatakawaca dan Kalakeya, ia menjalin persahabatan dengan mereka. Setelah menaklukkan para raja dunia, ia mengadakan upacara yang layak dan dirinya diangkat sebagai Maharaja. Oleh karena Kubera telah menghina tindakan Rahwaṇa yang kejam dan tamak, Rahwaṇa mengerahkan pasukannya menyerbu kediaman para Dewa, dan menaklukkan banyak Dewa. Lalu ia mencari Kubera dan menyiksanya secara khusus. Dengan kekuatannya, ia menaklukkan banyak Dewa, makhluk surgawi, dan bangsa naga. Selain terkenal sebagai penakluk tiga dunia, Rahwaṇa juga terkenal akan petualangannya menaklukkan para wanita.

Rahwaṇa memiliki banyak istri, yang paling terkenal adalah Mandodari, putra Mayasura dengan seorang bidadari bernama Hema. Rāmāyana mendeskripsikan bahwa istana Rahwaṇa dipenuhi oleh para wanita cantik yang berasal dari berbagai penjuru dunia. Dalam Rāmāyana juga dideskripsikan bahwa di Alengka, semua wanita merasa beruntung apabila Rahwaṇa menikahinya. Dua legenda terkenal menceritakan kisah pertemuan Rahwaṇa dengan wanita istimewa. Wanita istimewa pertama adalah Wedawati, seorang pertapa wanita. Wedawati mengadakan pemujaan kehadapan Wisnu agar ia diterima menjadi istrinya. Ketika Rahwaṇa melihat kecantikan Wedawati, hatinya terpikat dan ingin menikahinya. Ia meminta Wedawati untuk menghentikan pemujaannya dan ia merayu Wedawati agar bersedia untuk menikahinya. Karena Wedawati menolak, Rahwaṇa mencoba untuk melarikannya. Kemudian Wedawati bersumpah bahwa ia akan lahir kembali sebagai penyebab kematian Rahwaṇa. Setelah berkata demikian, Wedawati membuat api unggun dan menceburkan diri ke dalamnya.

Bertahun-tahun kemudian ia bereinkarnasi sebagai Sītā, yang diculik oleh Rahwaṇa sehingga Rāmā turun tangan dan membunuh Rahwaṇa. Rahwaṇa memiliki banyak kerabat dan saudara yang disebutkan dalam Rāmāyana. Karena sulit menemukan data-data mengenai mereka selain Rāmāyana, tidak banyak yang diketahui tentang mereka. Menurut Rāmāyana, ibu Rahwaṇa adalah puteri seorang Detya bernama Kaikasi, menikahi seorang pertapa bernama Wiswara. Rahwaṇa memiliki kakek bernama Pulastya, putra Brahma. Dari pihak ibunya, Rahwaṇa memiliki kakek bernama Sumali, dan ia memiliki paman bernama Marica, putra Tataka, saudara Malyawan.

Rahwaṇa memiliki tiga istri dan tujuh putra. Tujuh putra Rahwaṇa yaitu: Indrajit alias Megananda, Prahasta, Atikaya, Aksa alias Aksayakumara, Dewantaka, Narantaka, dan Trisirah. Selain itu, Rahwaṇa memiliki enam saudara laki-laki dan dua saudara perempuan. Saudara-saudaranya tersebut terdiri atas tiga saudara kandung dan lima saudara tiri. Saudara-saudara Rahwaṇa yaitu:

1.     Kubera, kakak tiri Rahwaṇa, lain ibu namun satu ayah. Raja Alengka sebelum Rahwaṇa. Ia merupakan Dewa penjaga arah utara, sekaligus Dewa kekayaan.

2.      Kumbhakarṇa, adik kandung Rahwaṇa. Raksasa yang tidur selama enam bulan dan bangun selama enam bulan karena anugerah Brahma.

3.     Wibhīsaṇa, adik kandung Rahwaṇa. Penasihat di Kerajaan Alengka.

4.     Kara, adik tiri Rahwaṇa. Raja dan pelindung perbatasan Alengka yang bernama Janasthan atau Yanasthana di Chitrakuta.

5.     Dusana, adik tiri Rahwaṇa. Patih di Yanasthana.

6.     Ahirāvaṇa, adik tiri Rahwaṇa. Raja di Patala.

7.     Kumbini, adik tiri Rahwaṇa. Istri raksasa Madhu, ibu dari Lawanasura.

8.     Surpanaka, adik kandung Rahwaṇa. Rakshasi yang tinggal di Yanasthana, dilukai oleh Lakṣmana. Ia mengadu kepada Kara dan Rahwaṇa, dan merupakan biang keladi yang menyebabkan permusuhan antara Rāmā dan Rahwaṇa.

Kembali lagi pada cerita Daśaratha yang sudah tua dan ingin mengangkat Rāmā sebagai raja. Dengan segera ia melakukan persiapan untuk upacara penobatan Rāmā, sementara Bharata menginap di rumah pamannya yang jauh dari Ayodhyā. Mendengar Rāmā akan dinobatkan sebagai raja, Mantara menghasut Kaikeyī agar menobatkan Bharata sebagai raja. Kaikeyī yang semula hanya diam, tiba-tiba menjadi ambisius untuk mengangkat anaknya sebagai raja. Kemudian ia meminta agar Daśaratha menobatkan Bharata sebagai raja. Ia juga meminta agar Rāmā dibuang ke tengah hutan selama 14 tahun.

Daśaratha pun terkejut dan menjadi sedih, namun ia tidak bisa menolak karena terikat dengan janji Kaikeyī. Dengan berat hati, Daśaratha menobatkan Bharata sebagai raja dan menyuruh Rāmā agar meninggalkan Ayodhyā. Sītā dan Lakṣmana yang setia turut mendampingi Rāmā. Sebagai putra yang berbhakti, Rāmā pun menjalani keputusan itu dengan ikhlas. Sītā yang setia mengikuti perjalanan Rāmā, begitu pula adik Rāmā yang lahir dari ibu lain, yaitu Lakṣmana. Ketiganya meninggalkan istana Ayodhyā untuk memulai hidup di dalam hutan. Di tengah hutan Dandaka, Rāmā mendirikan sebuah pondok kayu. Di dalam hutan belantara dan pegunungan, Rāmā, Sītā, dan Lakṣmana banyak bergaul dengan para Pendeta dan Brahmana sehingga menambah ilmu pengetahuan dan kepandaian mereka.

Setiap hari Rāmā berburu binatang untuk persediaan makanan, sementara Lakṣamaṇa mencari buah-buahan. Sītā selain menyiapkan makanan, juga mencari kembang untuk keperluan upacara pemujaan. Rāmā amat gemar berburu rusa. Pulang dari perburuan, rusa itu disembelih lalu dagingnya diiris-iris dan dijemur agar kering. Sītā selalu menjaga daging rusa yang sedang dijemur itu. Tapi burung-burung gagak senantiasa mencium baunya. Beramai-ramai mereka menyambar jemuran daging itu hingga habis. Pada suatu hari Rāmā tidak pergi berburu karena dia ingin tahu binatang apakah yang selalu mencuri dan menghabiskan jemuran dagingnya. Diapun mengintai.

Ternyata burung-burung gagaklah yang mencurinya. Sambil berlindung Rāmā membidik burung-burung pencuri itu dengan panah. Satu persatu burung-burung pencuri itu terkena anak panah dan tubuhnya jatuh berserakan. Sejak itu jemuran daging Sītā tak ada lagi yang mencuri. Tak berapa lama kemudian, Daśaratha wafat dalam kesedihan. Setelah Daśaratha wafat, Kaikeyī mulai menyesali tindakannya dan memarahi dirinya sendiri atas kematian Sang Raja. Rakyat Ayodhyā pun marah dan menghujat Kaikeyī. Bharata juga marah dan berkata bahwa ia tidak akan menyebut Kaikeyī sebagai ibunya lagi. Pelayan Kaikeyī yang bernama Mantara hendak dibunuh oleh Satrugṇa karena menghasut Kaikeyī dengan lidahnya yang tajam, namun ia diampuni oleh Rāmā.

Āraṇyakāṇḍa adalah kitab ke tiga epos Rāmāyana. Dalam kitab ini diceritakanlah bagaimana sang Rāmā dan Lakṣamaṇa membantu para tapa di sebuah asrama mengusir sekalian raksasa yang datang mengganggu. Selama masa pembuangan, Lakṣmana membuat pondok untuk Rāmā dan Sītā. Ia juga melindungi mereka di saat malam sambil berbincang-bincang dengan para pemburu di hutan. Saat menjalani masa pengasingan di hutan, Rāmā dan Lakṣmana didatangi seorang rakshasi bernama Surpanaka. Ia mengubah wujudnya menjadi seorang wanita cantik dan menggoda Rāmā dan Lakṣmana. Rāmā menolak untuk menikahinya dengan alasan bahwa ia sudah beristri, maka ia menyuruh agar Surpanaka membujuk Lakṣmana, namun Lakṣmana pun menolak.

Surpanaka iri melihat kecantikan Sītā dan hendak membunuhnya. Dengan sigap Rāmā melindungi Sītā dan Lakṣmana mengarahkan pedangnya kepada Surpanaka yang hendak menyergapnya. Hal itu membuat hidung Surpanaka terluka. Surpanaka mengadukan peristiwa tersebut kepada kakaknya yang bernama Kara. Kara marah terhadap Rāmā yang telah melukai adiknya dan hendak membalas dendam. Dengan angkatan perang yang luar biasa, Kara dan sekutunya menggempur Rāmā, namun mereka semua gugur. Akhirnya Surpanaka melaporkan keluhannya kepada Rahwaṇa di Kerajaan Alengka. Surpanaka mengadu kepada kakaknya sang Rahwaṇa sembari memprovokasinya untuk menculik Dewi Sītā yang katanya sangat cantik.

Sang Rahwaṇa pun pergi diiringi oleh Marica. Marica menyamar menjadi seekor kijang emas yang menggoda Dewi Sītā. Dewi Sītā tertarik dan meminta Rāmā untuk menangkapnya. Pada suatu hari, Sītā melihat seekor kijang yang sangat lucu sedang melompat-lompat di halaman pondoknya. Rāmā dan Lakṣmana merasa bahwa kijang tersebut bukan kijang biasa, namun atas desakan Sītā, Rāmā memburu kijang tersebut sementara Lakṣmana ditugaskan untuk menjaga Sītā. Dewi Sītā ditinggalkannya dan dijaga oleh Lakṣamaṇa. Rāmā pun pergi memburunya, tetapi si Marica sangat gesit. Kijang yang diburu Rāmā terus mengantarkannya ke tengah hutan. Karena Rāmā merasa bahwa kijang tersebut bukan kijang biasa, ia memanahnya.

Seketika hewan tersebut berubah menjadi Marica, patih Sang Rahwaṇa. Saat Rāmā memanah kijang kencana tersebut, hewan itu berubah menjadi raksasa Marica, dan mengerang dengan suara keras. Sītā yang merasa cemas, menyuruh Lakṣmana agar menyusul kakaknya ke hutan. Karena teguh dengan tugasnya untuk melindungi Sītā, Lakṣmana menolak secara halus. Kemudian Sītā berprasangka bahwa Lakṣmana memang ingin membiarkan kakaknya mati di hutan sehingga apabila Sītā menjadi janda, maka Lakṣmana akan menikahinya. Mendengar perkataan Sītā, Lakṣmana menjadi sakit hati dan bersedia menyusul Rāmā, namun sebelumnya ia membuat garis pelindung dengan anak panahnya agar makhluk jahat tidak mampu meraih Sītā.

Garis pelindung tersebut bernama Lakṣmana Rekha, dan sangat ampuh melindungi seseorang yang berada di dalamnya, selama ia tidak keluar dari garis tersebut. Saat Lakṣmana meinggalkan Sītā sendirian, raksasa Rahwaṇa yang menyamar sebagai seorang brahmana muncul dan meminta sedikit air kepada Sītā. Karena Rahwaṇa tidak mampu meraih Sītā yang berada dalam Lakshmana Rekha, maka ia meminta agar Sītā mengulurkan tangannya. Pada saat tangan Rahwaṇa memegang tangan Sītā, ia segera menarik Sītā keluar dari garis pelindung dan menculiknya. Lakṣmana menyusul Rāmā ke hutan, Rāmā terkejut karena Sītā ditinggal sendirian. Ketika mereka berdua pulang, Sītā sudah tidak ada. Rahwaṇa bertemu dengan seekor burung sakti Sang Jatayu, tetapi Jatayu kalah dan sekarat.

Lakṣamaṇa yang sudah menemukan Rāmā menjumpai Jatayu yang menceritakan kisahnya sebelum ia mati. Menurut Kitab Purana, Lakṣmana merupakan penitisan Shesha. Shesha adalah ular yang mengabdi kepada Dewa Wisnu dan menjadi ranjang ketika Wisnu beristirahat di lautan susu. Shesha menitis pada setiap awatara Wisnu dan menjadi pendamping setianya. Dalam Rāmāyana, ia menitis kepada Lakṣmana sedangkan dalam Mahabharata, ia menitis kepada Baladewa. Lakṣmana merupakan putra ketiga Raja Daśaratha yang bertahta di kerajaan Kosala, dengan ibu kota yang bernama  Ayodhyā. Kakak sulungnya bernama Rāmā, kakak keduanya bernama Bharata, dan adiknya sekaligus kembarannya bernama Satrugṇa. Di antara saudara-saudaranya, Lakṣmana memiliki hubungan yang sangat dekat terhadap Rāmā. Mereka bagaikan duet yang tak terpisahkan. Ketika Rāmā menikah dengan Sītā, Lakṣmana juga menikahi adik Dewi Sītā yang bernama Urmila. Meskipun ke empat putra Raja Daśaratha saling menyayangi satu sama lain, namun Satrugṇa lebih cenderung dekat terhadap Bharata, sedangkan Lakṣmana cenderung dekat terhadap Rāmā. Saat Ṛsī Wiswamitra datang meminta bantuan Rāmā agar mengusir para raksasa di hutan Dandaka, Lakṣmana turut serta dan menambah pengalaman bersama kakaknya.

Dihutan mereka membunuh banyak raksasa dan melindungi para Ṛsī. Bisa dikatakan bahwa Lakṣmana selalu berada di sisi Rāmā dan selalu berbakti kepadanya dalam setiap petualangan Rāmā dalam Rāmāyana. Saat Rāmā dibuang ke hutan karena tuntutan permaisuri Kaikeyī, Lakṣmana mengikutinya bersama Sītā. Ketika Bharata datang menyusul Rāmā ke dalam hutan dengan angkatan perang Ayodhyā, Lakṣmana mencurigai kedatangan Bharata dan bersiap-siap untuk melakukan serangan. Rāmā yang mengetahui maksud kedatangan Bharata menyuruh Lakṣmana agar menahan nafsunya dan menjelaskan bahwa Bharata tidak mungkin menyerang mereka di hutan, malah sebaliknya Bharata ingin agar Rāmā kembali ke Ayodhyā. Setelah mendengar penjelasan Rāmā, Lakṣmana menjadi sadar dan malu.

Sesampainya di istana Kerajaan Alengka yang terletak di kota Trikuta, Sītā pun ditawan di dalam sebuah taman yang sangat indah, bernama Taman Asoka. Disekelilingnya ditempatkan para rakshasi yang bermuka buruk dan bersifat jahat namun dungu. Selama ditawan di istana Alengka, Sītā selalu berdoa dan berharap Rāmā datang menolongnya. Pada suatu hari muncul seekor Wanara datang menemuinya. Ia mengaku bernama Hanumān, utusan Śrī Rāmā. Sebagai bukti Hanumān menyerahkan cincin milik Sītā yang dulu dibuangnya di hutan ketika ia diculik Rahwaṇa. Cincin tersebut telah ditemukan oleh Rāmā. Hanumān membujuk Sītā supaya bersedia meninggalkan Alengka bersama dirinya. Sītā menolak karena ia ingin Rāmā yang datang sendiri ke Alengka untuk merebutnya dari tangan Rahwaṇa dengan gagah berani. Hanumān dimintanya untuk kembali dan menyampaikan hal itu.

Kiṣkindhakāṇḍa adalah kitab ke empat epos Rāmāyana. Dalam kitab ini diceritakan bagaimana sang Rāmā amat berduka cita akan hilangnya Dewi Sītā. Lalu bersama Lakṣamaṇa ia menyusup ke hutan belantara dan sampai di gunung Ṛsīmuka. Maka di sana berkelahilah sang kera Subali melawan Sugriwa memperebutkan Dewi Tara. Sang Sugriwa kalah lalu mengutus abdinya sang Hanumān meminta tolong kepada Śrī Rāmā untuk membunuh Subali, Rāmā setuju dan Subali mati. Setelah mendapati bahwa Sītā sudah menghilang, perasaan Rāmā terguncang. Lakṣmana mencoba menghibur Rāmā dan memberi harapan. Mereka berdua menyusuri pelosok gunung, hutan, dan sungai-sungai. Akhirnya mereka menemukan darah tercecer dan pecahan-pecahan kereta, seolah-olah pertempuran telah terjadi.

Rāmā berpikir bahwa itu adalah pertempuran raksasa yang memperebutkan Sītā, namun tak lama kemudian mereka menemukan seekor burung tua sedang sekarat. Burung tersebut bernama Jatayu, sahabat Raja Daśaratha. Rāmā mengenal burung tersebut dengan baik dan dari penjelasan Jatayu, Rāmā tahu bahwa Sītā diculik Rahwaṇa. Setelah memberitahu Rāmā, Jatayu menghembuskan napas terakhirnya. Sesuai aturan agama, Rāmā mengadakan upacara pembakaran jenazah yang layak bagi Jatayu. Dalam perjalanan menyelamatkan Sītā, Rāmā dan Lakṣmana bertemu raksasa aneh yang bertangan panjang. Atas instruksi Rāmā, mereka berdua memotong lengan raksasa tersebut dan tubuhnya dibakar sesuai upacara. Setelah dibakar, raksasa tersebut berubah wujud menjadi seorang Dewa bernama Kabanda.

Atas petunjuk Sang Dewa, Rāmā dan Lakṣamaṇa pergi ke tepi sungai Pampa dan mencari Sugriwa di bukit Resyamuka karena Sugriwa lah yang mampu menolong Rāmā. Dalam perjalanan mereka beristirahat di asrama Sabari, seorang wanita tua yang dengan setia menantikan kedatangan mereka berdua. Sabari menyuguhkan buah-buahan kepada Rāmā dan Lakṣmana. Setelah menyaksikan wajah kedua pangeran tersebut dan menjamu mereka, Sabari meninggal dengan tenang dan mencapai surga. Dalam masa petualangan mencari Sītā, Rāmā dan Lakṣmana menyeberangi sungai Pampa dan pergi ke gunung Resyamuka, sampai akhirnya tiba di kediaman para wanara dengan rajanya bernama Sugriwa. Sugriwa takut saat melihat Rāmā dan Lakṣmana sedang mencari-cari sesuatu, karena ia berpikir bahwa mereka adalah utusan Subali yang dikirim untuk mencari dan membunuh Sugriwa. Kemudian Sugriwa mengutus keponakannya yang bernama Hanumān untuk menyelidiki kedatangan Rāmā dan Lakṣmana. Sebelum berjumpa dengan Sugriwa, Rāmā bertemu dengan Hanumān yang menyamar menjadi Brahmana. Setelah bercakap-cakap agak lama, Hanumān menampakkan wujud aslinya. Setelah mengetahui bahwa Rāmā dan Lakṣmana adalah orang baik, Hanumān mempersilakan mereka untuk menemui Sugriwa.

Dihadapan Rāmā, Sugriwa menyambut kedatangan Rāmā diistananya. Tak berapa lama kemudian mereka saling menceritakan masalah masing-masing. Pada suatu ketika, raksasa bernama Mayawi datang ke Kiskenda untuk menantang berkelahi dengan Subali. Subali yang tidak pernah menolak jika ditantang berkelahi menyerang Mayawi dan diikuti oleh Sugriwa. Melihat lawannya ada dua orang, raksasa tersebut lari ke sebuah gua besar. Subali mengikuti raksasa tersebut dan menyuruh Sugriwa menunggu di luar. Beberapa lama kemudian, Sugriwa mendengar suara teriakan diiringi dengan darah segar yang mengalir keluar. Karena mengira bahwa Subali telah tewas, Sugriwa menutup gua tersebut dengan batu yang sangat besar agar sang raksasa tidak bisa keluar. Kemudian Sugriwa kembali ke Kiskenda dan didesak untuk menjadi raja karena Subali telah dianggap tewas. Saat Sugriwa menikmati masa-masa kekuasaannya, Subali datang dan marah besar karena Sugriwa telah mengurungnya di dalam gua.

Merasa bahwa ia dikhianati, Subali mengusir Sugriwa jauh-jauh dan merebut istrinya pula. Sugriwa dengan rendah hati minta maaf kepada Subali, namun permohonan maafnya tidak diterima Subali. Akhirnya Subali menjadi raja Kiṣkindha sedangkan Sugriwa beserta pengikutnya yang setia bersembunyi di sebuah daerah yang dekat dengan asrama Ṛsī Matanga, dimana Subali tidak akan berani untuk menginjakkan kakinya di daerah itu. Akhirnya Rāmā dan Sugriwa mengadakan perjanjian bahwa mereka akan saling tolong menolong. Rāmā berjanji akan merebut kembali Kerajaan Kiskenda dari Subali sedangkan Sugriwa berjanji akan membantu Rāmā mencari Sītā. Akhirnya Rāmā dan Sugriwa menjalin persahabatan dan berjanji akan saling membantu satu sama lain. Setelah menyusun suatu rencana, mereka datang ke Kiskenda. Di pintu gerbang istana Kiskenda, Sugriwa berteriak menantang Subali. Karena merasa marah, Subali keluar dan bertarung dengan Sugriwa. Setelah petarungan sengit berlangsung beberapa lama, Sugriwa makin terdesak sementara Subali makin garang.

Akhirnya Rāmā muncul untuk menolong Sugriwa dengan melepaskan panah saktinya ke arah Subali. Panah sakti tersebut menembus dada Subali yang sekeras intan kemudian membuatnya jatuh tak berkutik. Saat sedang sekarat, Subali memarahi Rāmā yang mencampuri urusannya. Ia juga berkata bahwa Rāmā tidak mengetahui sikap seorang ksatria. Rāmā tersenyum mendengar penghinaan Subali kemudian menjelaskan bahwa andai saja Subali tidak bersalah, tentu panah yang dilepaskan Rāmā tidak akan menembus tubuhnya, melainkan akan menjadi bumerang bagi Rāmā. Setelah mendengar penjelasan Rāmā, Subali sadar akan dosa dan kesalahannya terhadap adiknya.

Akhirnya ia merestui Sugriwa menjadi Raja Kiskenda serta menitipkan anaknya yang bernama Anggada untuk dirawat oleh Sugriwa. Tak berapa lama kemudian, Subali menghembuskan napas terakhirnya. Setelah Subali wafat, Sugriwa bersenang-senang di istana Kiskenda, sementara Rāmā dan Lakṣmana menunggu kabar dari Sugriwa di sebuah gua. Karena sudah lama menunggu, Rāmā mengutus Lakṣmana untuk memperingati Sugriwa agar memenuhi janjinya menolong Sītā. Tiba di pintu gerbang Kiskenda, Sugriwa yang diwakili Hanumān meminta maaf kepada Rāmā karena melupakan janji mereka untuk mencari Sītā. Akhirnya Sugriwa mengerahkan prajuritnya yang terbaik untuk menjelajahi bumi demi menemukan Sītā.

Prajurit pilihan Sugriwa terdiri atas Hanumān, Nila, Jembawan, Anggada, Gandamadana, dan lain-lain. Hanumān lahir pada masa Tretayuga sebagai putra Anjani, seekor wanara wanita. Dahulu Anjani sebetulnya merupakan bidadari, bernama Punjikastala. Namun karena suatu kutukan, ia terlahir ke dunia sebagai wanara wanita. Kutukan tersebut bisa berakhir apabila ia melahirkan seorang putra yang merupakan penitisan Siwa. Anjani menikah dengan Kesari, seekor wanara perkasa. Bersama dengan Kesari, Anjani melakukan tapa kehadapan Siwa, agar Siwa bersedia menjelma sebagai putra mereka. Karena Siwa terkesan dengan pemujaan yang dilakukan oleh Anjani dan Kesari, ia mengabulkan permohonan mereka dengan turun ke dunia sebagai Hanumān.

Pada saat Hanumān masih kecil, ia mengira matahari adalah buah yang bisa dimakan, kemudian terbang ke arahnya dan hendak memakannya. Dewa Indra melihat hal itu dan menjadi cemas dengan keselamatan matahari. Untuk mengantisipasinya, ia melemparkan petirnya ke arah Hanumān sehingga kera kecil itu jatuh dan menabrak gunung. Melihat hal itu, Dewa Bayu menjadi marah dan berdiam diri. Akibat tindakannya, semua makhluk di bumi menjadi lemas. Para Dewa pun memohon kepada Bayu agar menyingkirkan kemarahannya. Dewa Bayu menghentikan kemarahannya dan Hanumān diberi hadiah melimpah ruah. Dewa Brahma dan Dewa Indra memberi anugerah bahwa Hanumān akan kebal dari segala senjata, serta kematian akan datang hanya dengan kehendaknya sendiri. Maka dari itu, Hanumān menjadi makhluk yang abadi atau Chiranjiwin. Saat bertemu dengan Rāmā dan Lakṣmana, Hanumān merasakan ketenangan. Ia tidak melihat adanya tanda-tanda permusuhan dari kedua pemuda itu.

Rāmā dan Lakṣmana juga terkesan dengan etika Hanumān. Kemudian mereka bercakap-cakap dengan bebas. Mereka menceritakan riwayat hidupnya masing-masing. Rāmā juga menceritakan keinginannya untuk menemui Sugriwa. Karena tidak curiga lagi kepada Rāmā dan Lakṣmana, Hanumān kembali ke wujud asalnya dan mengantar Rāmā dan Lakṣmana menemui Sugriwa. Mereka menempuh perjalanan berhari-hari dan menelusuri sebuah gua, kemudian tersesat dan menemukan kota yang berdiri megah didalamnya. Atas keterangan Swayampraba yang tinggal di sana, kota tersebut dibangun oleh arsitek Mayasura dan sekarang sepi karena Maya pergi ke alam para Dewa. Lalu Hanumān menceritakan maksud perjalanannya dengan panjang lebar kepada Swayampraba. Atas bantuan Swayampraba yang sakti, Hanumān dan wanara lainnya lenyap dari gua dan berada di sebuah pantai dalam sekejap.

Dipantai tersebut, Hanumān dan wanara lainnya bertemu dengan Sempati, burung raksasa yang tidak bersayap. Ia duduk sendirian di pantai tersebut sambil menunggu bangkai hewan untuk dimakan. Karena ia mendengar percakapan para wanara mengenai Sītā dan kematian Jatayu, Sempati menjadi sedih dan meminta agar para wanara menceritakan kejadian yang sebenarnya terjadi. Anggada menceritakan dengan panjang lebar kemudian meminta bantuan Sempati. Atas keterangan Sempati, para wanara tahu bahwa Sītā ditawan di sebuah istana yang teretak di Kerajaan Alengka.

Kerajaan tersebut diperintah oleh raja raksasa bernama Rahwana. Para wanara berterima kasih setelah menerima keterangan Sempati, kemudian mereka memikirkan cara agar sampai di Alengka. Karena bujukan para wanara, Hanumān teringat akan kekuatannya dan terbang menyeberangi lautan agar sampai di Alengka. Setelah ia menginjakkan kakinya disana, ia menyamar menjadi monyet kecil dan mencari-cari Sītā. Ia melihat Alengka sebagai benteng pertahanan yang kuat sekaligus kota yang dijaga dengan ketat. Ia melihat penduduknya menyanyikan mantra-mantra Weda dan lagu pujian kemenangan kepada Rahwana. Namun tak jarang ada orang-orang bermuka kejam dan buruk dengan senjata lengkap. Kemudian ia datang ke istana Rahwana dan mengamati wanita-wanita cantik yang tak terhitung jumlahnya, namun ia tidak melihat Sītā yang sedang merana. Setelah mengamati kesana kemari, ia memasuki sebuah taman yang belum pernah diselidikinya. Di sana ia melihat wanita yang tampak sedih dan murung yang diyakininya sebagai Sītā.

Sundarakāṇḍa adalah kitab kelima Rāmāyana. Dalam kitab ini diceritakan bagaimana sang Hanumān datang ke Alengka Pura mencari tahu akan keadaan Dewi Sītā dan membakar kota Alengka Pura karena iseng. Inti dari kisah Rāmāyana adalah penculikan Sītā oleh Rahwana raja Kerajaan Alengka yang ingin mengawininya. Penculikan ini berakibat dengan hancurnya Kerajaan Alengka oleh serangan Rāmā yang dibantu bangsa wanara dari kerajaan Kiskenda. Kemudian Hanumān melihat Rahwana merayu Sītā. Setelah Rahwana gagal dengan rayuannya dan pergi meninggalkan Sītā, Hanumān menghampiri Sītā dan menceritakan maksud kedatangannya. Mulanya Sītā curiga, namun kecurigaan Sītā hilang saat Hanumān menyerahkan cincin milik Rāmā. Hanumān juga menjanjikan bantuan akan segera tiba.

Hanumān menyarankan agar Sītā terbang bersamanya kehadapan Rāmā, namun Sītā menolak. Ia mengharapkan Rāmā datang sebagai ksatria sejati dan datang ke Alengka untuk menyelamatkan dirinya. Kemudian Hanumān mohon restu dan pamit dari hadapan Sītā. Sebelum pulang ia memporak-porandakan taman Asoka di istana Rahwana. Ia membunuh ribuan tentara termasuk prajurit pilihan Rahwana seperti Jambumali dan Aksha. Akhirnya ia dapat ditangkap Indrajit dengan senjata Brahma Astra. Senjata itu memilit tubuh Hanumān. Namun kesaktian Brahma Astra lenyap saat tentara raksasa menambahkan tali jerami. Indrajit marah bercampur kecewa karena Brahma Astra bisa dilepaskan Hanumān kapan saja, namun Hanumān belum bereaksi karena menunggu saat yang tepat. Ketika Rahwana hendak memberikan hukuman mati kepada Hanumān, Wibhīsaṇa membela Hanumān agar hukumannya diringankan, mengingat Hanumān adalah seorang utusan. Kemudian Rahwana menjatuhkan hukuman agar ekor Hanumān dibakar.

Melihat hal itu, Sītā berdoa agar api yang membakar ekor Hanumān menjadi sejuk. Karena doa Sītā kepada Dewa Agni terkabul, api yang membakar ekor Hanumān menjadi sejuk. Lalu ia memberontak dan melepaskan Brahma Astra yang mengikat dirinya. Dengan ekor menyala-nyala seperti obor, ia membakar kota Alengka. Kota Alengka pun menjadi lautan api. Setelah menimbulkan kebakaran besar, ia menceburkan diri ke laut agar api di ekornya padam. Penghuni surga memuji keberanian Hanumān dan berkata bahwa selain kediaman Sītā, kota Alengka dilalap api. Dengan membawa kabar gembira, Hanumān menghadap Rāmā dan menceritakan keadaan Sītā. Setelah itu, Rāmā menyiapkan pasukan wanara untuk menggempur Alengka.

Yuddhakāṇḍa adalah kitab ke enam epos Rāmāyana dan sekaligus klimaks epos ini. Dalam kitab ini diceritakan Sang Rāmā dan Sang raja kera Sugriwa mengerahkan bala tentara  kera menyiapkan penyerangan Alengka Pura. Karena Alengka ini terletak pada sebuah pulau, sulitlah bagaimana mereka harus menyerang. Maka mereka bersiasat dan akhirnya memutuskan membuat jembatan bendungan (situbanda) dari daratan ke pulau Alengka. Para bala tentara kera dikerahkan. Pada saat pembangunan jembatan ini mereka banyak diganggu, tetapi akhirnya selesai dan Alengka Pura dapat diserang. Maka terjadilah perang besar. Para raksasa banyak yang mati dan prabu Rahwana gugur di tangan Śrī Rāmā. Saat Rāmā dan tentaranya bersiap-siap menuju Alengka, Wibhīsaṇa, adik Sang Rahwana, datang menghadap Rāmā dan mengaku akan berada di pihak Rāmā. Setelah ia menjanjikan persahabatan yang kekal, Rāmā menobatkannya sebagai Raja Alengka meskipun Rahwana masih hidup dan belum dikalahkan. Kemudian Rāmā dan pemimpin wanara lainnya berunding untuk memikirkan cara menyeberang ke Alengka mengingat tidak semua prajuritnya bisa terbang. Akhirnya Rāmā menggelar suatu upacara di tepi laut untuk memohon bantuan dari Dewa Baruna.

Selama tiga hari Rāmā berdoa dan tidak mendapat jawaban, akhirnya kesabarannya habis. Kemudian ia mengambil busur dan panahnya untuk mengeringkan lautan. Melihat laut akan binasa, Dewa Baruna datang menghadap Rāmā dan memohon maaf atas kesalahannya. Dewa Baruna menyarankan agar para wanara membuat jembatan besar tanpa perlu mengeringkan atau mengurangi kedalaman lautan. Nila ditunjuk sebagai arsitek jembatan tersebut. Setelah bekerja dengan giat, jembatan tersebut terselesaikan dalam waktu yang singkat dan diberi nama “Situbanda”. Setelah jembatan rampung, Rāmā dan pasukannya menyeberang ke Alengka. Pada pertempuran pertama, Anggada menghancurkan menara Alengka. Untuk meninjau kekuatan musuh, Rahwana segera mengirim mata-mata untuk menyamar menjadi wanara dan berbaur dengan mereka.

Penyamaran mata-mata Rahwana sangat rapi sehingga banyak yang tidak tahu, kecuali Wibhīsaṇa. Kemudian Wibhīsaṇa menangkap mata-mata tersebut dan membawanya ke hadapan Rāmā. Di hadapan Rāmā, mata-mata tersebut memohon pengampunan dan berkata mereka hanya menjalankan perintah. Akhirnya Rāmā mengizinkan mata-mata tersebut untuk melihat-lihat kekuatan tentara Rāmā dan berpesan agar Rahwana segera mengambalikan Sītā. Mata-mata tersebut sangat terharu dengan kemurahan hati Rāmā dan yakin bahwa kemenangan akan berada di pihak Rāmā. Ketika Indrajit melakukan ritual untuk memperoleh kekuatan, Lakṣmana datang bersama pasukan wanara dan merusak lokasi ritual. Indrajit menjadi marah kemudian perang terjadi.

Lakṣmana yang tidak ingin perang terjadi begitu lama segera melepaskan senjata panah Indra Astra. Senjata tersebut memutuskan leher Indrajit dari badannya sehingga ia tewas seketika. Atas jasanya tersebut, Rāmā memuji Lakṣmana serta para Dewa dan gandarwa menjatuhkan bunga dari surga. Dalam pertempuran besar antara Rāmā dan Rahwana, Hanumān membasmi banyak tentara raksasa. Saat Rāmā, Lakṣmana, dan bala tentaranya yang lain terjerat oleh senjata Nagapasa yang sakti, Hanumān pergi ke Himalaya atas saran Jembawan untuk menemukan tanaman obat. Karena tidak tahu persis bagaimana ciri-ciri pohon yang dimaksud, Hanumān memotong gunung tersebut dan membawa potongannya kehadapan Rāmā. Setelah Rāmā dan prajuritnya pulih kembali, Hanumān melanjutkan pertarungan dan membasmi banyak pasukan raksasa. Pada hari pertempuran terahir, Dewa Indra mengirim kereta perangnya dan meminjamkannya kepada Rāmā.

Kusir kereta tersebut bernama Matali, siap melayani Rāmā. Dengan kereta ilahi tersebut, Rāmā melanjutkan peperangan yang berlangsung dengan sengit. Kedua pihak sama-sama kuat dan mampu bertahan. Akhirnya Rāmā melepaskan senjata Brahma Astra ke dada Rahwana. Senjata sakti tersebut mengantar Rahwana menuju kematiannya. Seketika bunga-bunga bertaburan dari surga karena menyaksikan kemenangan Rāmā. Wibhīsaṇa meratapi jenazah kakaknya dan sedih karena nasihatnya tidak dihiraukan. Sesuai aturan agama, Rāmā mengadakan upacara pembakaran jenazah yang layak bagi Rahwana, kemudian memberikan wejangan kepada Wibhīsaṇa untuk membangun kembali negeri Alengka. Setelah Rahwana dikalahkan, berkat bantuan Sugriwa raja bangsa wanara, serta Wibhīsaṇa adik Rahwana, Rāmā berhasil mengalahkan kerajaan Alengka. Setelah kematian Rahwana, Rāmā pun menyuruh Hanumān untuk masuk ke dalam istana menjemput Sītā. Hal ini sempat membuat Sītā kecewa karena ia berharap Rāmā yang datang sendiri dan melihat secara langsung tentang keadaannya. Setelah mandi dan bersuci, Sītā menemui Rāmā. Rupanya Rāmā merasa sangsi terhadap kesucian Sītā karena istrinya itu tinggal di dalam istana musuh dalam waktu yang cukup lama.

Menyadari hal itu, Sītā pun menyuruh Lakṣmana untuk mengumpulkan kayu bakar sebanyak-banyaknya dan membuat api unggun. Tak lama kemudian Sītā melompat ke dalam api tersebut. Dari dalam api tiba-tiba muncul Dewa Brahma dan Dewa Agni mengangkat tubuh Sītā dalam keadaan hidup. Hal ini membuktikan kesucian Sītā sehingga Rāmā pun dengan lega menerimanya kembali. Sītā kembali ke pelukan Rāmā dan mereka kembali ke Ayodhyā bersama Lakṣmana, Sugriwa, Hanumān dan tentara wanara lainnya. Di Ayodhyā, mereka disambut oleh Bharata dan Kaikeyī. Di sana para wanara diberi hadiah oleh Rāmā atas jasa-jasanya. Di Ayodhyāpura mereka disambut oleh Prabu Bharata dan beliau menyerahkan kerajaannya kepada sang Rāmā. Śrī Rāmā lalu memerintah di Ayodhyā Pura dengan bijaksana.

Salah satu versi Rāmāyana menceritakan bahwa Rahwana tidak mampu dibunuh meski badannya dihancurkan sekalipun, sebab ia menguasai ajian Rawarontek serta Pancasona. Untuk mengakhiri riwayat Rahwana, Rāmā menggunakan senjata sakti yang dapat berbicara bernama Kyai Dangu. Senjata tersebut mengikuti kemana pun Rahwana pergi untuk menyayat kulitnya. Setelah Rahwana tersiksa oleh serangan Kyai Dangu, ia memutuskan untuk bersembunyi diantara dua gunung kembar. Saat ia bersembunyi, perlahan-lahan kedua gunung itu menghimpit badan Rahwana sehingga raja raksasa itu tidak berkutik. Menurut cerita, ke dua gunung tersebut adalah kepala dari Sondara dan Sondari, yaitu putra kembar Rahwana yang dibunuh untuk mengelabui Sītā.

Kitab Uttarakāṇḍa adalah kanda terakhir yang menceritakan kisah pembuangan Dewi Sītā karena Sang Rāmā mendengar desas-desus dari rakyat yang sangsi dengan kesucian Dewi Sītā. Kemudian Dewi Sītā tinggal di pertapaan Ṛsī Walmiki dan melahirkan Kusa dan Lawa. Kusa dan Lawa datang ke istana Sang Rāmā pada saat upacara Aswamedha. Pada saat itulah mereka menyanyikan Rāmāyana yang digubah oleh Ṛsī Walmiki. Diperkirakan kitab ini merupakan kitab tambahan. Kitab Uttarakanda dibuat dalam bentuk prosa, dan ditemukan pula dalam bahasa Jawa Kuna. Isinya tidak diketemukan dalam Kakawin Rāmāyana. Di permulaan versi Jawa Kuna ini ada referensi merujuk ke Prabu Dharmawangsa Teguh. Setelah Rahwana berhasil dikalahkan, Rāmā, Lakṣmana dan Sītā beserta para wanara pergi ke Ayodhyā. Di sana mereka disambut oleh Bharata dan Kaikeyī. Lakṣmana hendak dianugerahi Yuwaraja oleh Rāmā, namun ia menolak karena merasa Bharata lebih pantas menerimanya dibandingkan dirinya, sebab Bharata memerintah Ayodhyā dengan baik dan bijaksana selama Rāmā dan Lakṣmana tinggal di hutan. Setelah pertempuran besar melawan Rahwana berakhir, Rāmā juga hendak memberikan hadiah untuk Hanumān. Namun Hanumān menolak karena ia hanya ingin agar Śrī Rāmā bersemayam di dalam hatinya.

Rāmā mengerti maksud Hanumān dan bersemayam secara rohaniah dalam jasmaninya. Akhirnya Hanumān pergi bermeditasi di puncak gunung mendoakan keselamatan dunia. Setelah pulang ke Ayodhyā, Rāmā, Sītā, dan Lakṣmana disambut oleh Bharata dengan upacara kebesaran. Bharata kemudian menyerahkan takhta kerajaan kepada Rāmā sebagai raja. Dalam pemerintahan Rāmā terdengar desas-desus di kalangan rakyat jelata yang meragukan kesucian Sītā di dalam istana Rahwana. Rāmā merasa tertekan mendengar suara sumbang tersebut. Ia akhirnya memutuskan untuk membuang Sītā yang sedang mengandung ke dalam hutan. Dalam pembuangannya itu, Sītā ditolong seorang Ṛsī bernama Walmiki dan diberi tempat tinggal.

Beberapa waktu kemudian, Sītā melahirkan sepasang anak kembar yang diberi nama Lawa dan Kusa. Keduanya dibesarkan dalam asrama Ṛsī Walmiki dan diajari nyanyian yang mengagungkan nama Rāmācandra, ayah mereka. Suatu ketika Rāmā mengadakan upacara Aswamedha. Ia melihat dua pemuda kembar muncul dan menyanyikan sebuah lagu indah yang menceritakan tentang kisah perjalanan dirinya dahulu. Rāmā pun menyadari kalau ke dua pemuda tersebut tidak lain adalah Lawa dan Kusa, yang merupakan anak-anaknya sendiri.

Atas permintaan Rāmā melalui Lawa dan Kusa, Sītā pun dibawa kembali ke Ayodhyā. Namun masih saja terdengar desas-desus kalau kedua anak kembar tersebut bukan anak kandung Rāmā. Mendengar hal itu, Sītā pun bersumpah jika ia pernah berselingkuh maka bumi tidak akan sudi menerimanya. Tiba-tiba bumi pun terbelah. Dewi Pertiwi muncul dan membawa Sītā masuk ke dalam tanah. Menyaksikan hal itu, Rāmā sangat sedih. Ia pun menyerahkan takhta Ayodhyā dan setelah itu bertapa di Sungai Gangga sampai akhir hayatnya.

Komentar

  1. Artikel ini memberikan ringkasan yang sangat informatif tentang Rāmāyana. Saya sangat menghargai penjelasan mengenai nilai-nilai yang terkandung dalam cerita ini, serta bagaimana Rāmāyana telah berkontribusi pada penyebaran budaya Hindu di Asia. Sangat menarik untuk melihat bagaimana cerita ini diadaptasi di berbagai daerah, menunjukkan kekayaan budaya dan spiritualitas yang ada.

    BalasHapus
  2. Cerita Ramayana mengajarkan nilai-nilai moral seperti kesetiaan, keberanian, dan dharma. Tokoh-tokohnya memiliki karakter yang kuat, dengan Rama sebagai simbol kebenaran, Sita sebagai kesetiaan, dan Hanuman sebagai pengabdian. Kisah ini juga menunjukkan bahwa kesombongan dan hawa nafsu yang tak terkendali, seperti yang ditunjukkan Rahwana, akan berujung pada kehancuran. Pesan utamanya jelas: kebenaran dan keadilan akan selalu menang.

    BalasHapus
  3. Ringkasan Rāmāyana dalam artikel tersebut cukup jelas dengan struktur naratif yang baik dan penekanan pada nilai moral serta akulturasi budaya. Sehingga saya dapat memahami kronologi cerita dengan baik. Selain itu, penekanan pada nilai moral dan spiritual memperkuat pesan utama Rāmāyana, seperti kesetiaan, dharma, dan pengorbanan. Artikel ini juga menyoroti akulturasi budaya, menunjukkan bagaimana Rāmāyana berkembang di berbagai tradisi Asia. Selain itu, istilah Sanskerta yang digunakan sebaiknya disertai penjelasan agar lebih mudah dipahami. Secara keseluruhan, dari ringkasan Cerita Ramayana diatas bermanfaat untuk bisa mengetahui lebih banyak tentang Cerita Ramayana.

    BalasHapus
  4. Dari Rama, kita belajar tentang tanggung jawab dan kepemimpinan yang bijaksana. Dari Sita, kita memahami arti kesetiaan dan ketabahan. Hanuman mengajarkan tentang keberanian dan pengabdian tanpa pamrih.
    Kisah ini tidak hanya menghibur tetapi juga memberikan inspirasi untuk menjalani hidup dengan nilai-nilai luhur.

    BalasHapus
  5. Ringkasan artikel ini memberikan tentang kisah Ramayana, terutama dalam konteks budaya dan filosofisnya. Penulis tidak hanya menjelaskan alur cerita, tetapi juga bagaimana epos ini berpengaruh dalam tradisi Hindu dan Buddha di berbagai negara Asia. Struktur pembahasannya runtut, dimulai dari latar belakang cerita hingga tokoh-tokohnya. Namun, akan lebih menarik jika artikel ini juga membahas perbedaan versi Ramayana di berbagai budaya. Secara keseluruhan, artikel ini informatif dan cocok bagi yang ingin memahami Ramayana secara ringkas.

    BalasHapus
  6. Ramayana mengajarkan kita akan kesetiaan, keberanian, pantang menyerah dan pengorbanan. Melalui perjalanan hidup Rama dan tokoh lainnya, kita diajak untuk merenungkan pentingnya menjalankan dharma dalam kehidupan sehari-hari.

    BalasHapus
  7. Artikel ini memberikan ringkasan yang sangat jelas dan informatif tentang cerita Rāmāyana. Saya sangat mengapresiasi bagaimana kisah ini tidak hanya menyajikan alur cerita yang menarik, tetapi juga penuh dengan nilai-nilai moral seperti kesetiaan, keberanian, pengorbanan, dan pentingnya menjalankan dharma. Kisah hidup Rama dan tokoh lainnya memberi banyak pelajaran tentang arti komitmen terhadap kebenaran, menjaga kehormatan, serta bertindak bijak dalam menghadapi tantangan hidup.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sekilas Cerita Mahābhārata

SUGIHAN BALI: PENYUCIAN MIKROKOSMOS